Wednesday, September 17, 2008

Mudik RIA

Yang terhormat bagi para pengunjung blog, mohon maaf mulai hari ini saya mudik ke Jawa tengah sampai 5 Oktober 2008 nanti. Jadi untuk sementara saya tidak memposting artikel yang terbaru. Terima Kasih...............
anthurium jemani, jemanii, jenmanii, jemanizi, bursa anthurium, anthurium sirih, anthurium seed, anthurium black, anthurium plowmanii, anthurium pedatum, budi daya anthurium, anthurium jermanii, anthurium jenmanii sawi, club anthurium, memperbanyak anthurium, anthurium jermani, photo anthurium,
kolektor anthurium, anthurium sp, pupuk anthurium, anthuriums, jenis jenis anthurium, cara menanam anthurium, dijual anthurium, anthurium jemanii, macam macam anthurium, anthurium hookeri, pembibitan anthurium, anthurium superbum thailand, jual bibit anthurium, anthurium germanii
anthurium bandung, perbanyakan anthurium, perawatan anthurium, anthurium jaipong, harga anthurium, anthurium keris, kultur jaringan anthurium, beli anthurium, media anthurium, anthurium daun, tanam anthurium, anthurium nursery, manfaat anthurium, taksonomi anthurium, budidaya tanaman anthurium, jenis bunga anthurium,
anthurium flower, tanaman hias anthurium, anthurium gelombang cinta, anthurium varigata, artikel anthurium, anthurium pdf, anthurium superbum, anthurium corong, anthurium jati, menanam anthurium, anthurium garuda, foto anthurium, bunga anthurium, morfologi anthurium, order anthurium seeds, gambar anthurium, anthurium jenmani, anthurium indonesia, photo anthurium jenmanii, anthurium plant,
anthurium kristin, anthurium bintang, antherium, berita anthurium, promosi anthurium, pohon anthurium, anthurium regale, teknik perbanyakan anthurium, adenium anthurium, anturium, media tanam anthurium, anthurium reflexinervium, biji anthurium, anthurium cobra, jual biji anthurium, jenis anthurium, anthurium black beauty,
koleksi anthurium, tanaman anthurium, anthurium thailand, anthurium superboom, anthurium veitchii, harga biji anthurium, merawat anthurium, klasifikasi anthurium, anthurium andreanum, anthurium leaf, anthurium species, kultur anthurium, aglaonema anthurium, anthurium adreanum, anthurium bintang kejora,
macam anthurium, anthurium crenatum, anthurium golok, anthurium murah, budidaya anthurium, anthurium crystallinum, anthurium plants, anthurium jemani, anthurium hookery, bibit anthurium, anthurium jakarta, anthurium,
iklan anthurium, benih anthurium, anthurium seeds, bisnis anthurium, jual anthurium, anthurium indonetwork, petani anthurium, www anthurium, cara tanam anthurium, fhoto anthurium, anthurium andraeanum, penjual anthurium, anthurium jenmanii

Cara Menghadapi Celaan

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari saling menasehati di antara kaum muslimin. Saling menasehati dengan menggunakan bahasa yang baik dan lemah lembut. Namun ada pula manusia bertempramen kuat sehingga kata-kata yang keluar darinya bernada tinggi, kasar, ataupun mencela. Atau bahkan memfitnah.

Demikian pula, kita harus melihat orang yang mencela dan memfitnah kita. Apabila ia benar dan memang untuk menasehati kita maka kita tidak perlu marah. Karena dia telah menunjukkan aib kita dan mengingkatkan kita dari kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Seandainya itu berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara:
  • Jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau kesalahan yang lain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik.
  • Sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, semua ini adalah penghapus dosa kita, jika kita sabar dan mengharap pahala dari Allah.
  • Orang yang mencela dan memfitnah kita akan mendapat kemurkaan dari Allah .
    Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”

[QS an-Nisaa’ : 112]


Kita harus berusaha untuk memaafkannya karena Allah Ta’ala cinta kepada orang-orang yang suka memaafkan. Seorang muslim harus ingat bahwa tidak ada artinya pujian manusia bila hal itu menimbulkan kemurkaan Allah. Pujian mereka tidak pula membuat kaya dan berumur panjang. Begitu pula celaan mereka ketika kita meninggalkan sesuatu. Celaan mereka tidak membuat kita berada dalam bahaya dan tidak pula memendekkan umur kita serta tidak menangguhkan rezeki. Semua manusia adalah lemah, tidak berkuasa terhadap hidup dan matinya serta tempat kembalinya.


Jika ia menyadari hal itu, tentu dia akan melepaskan kesenangannya pada riya’. Lalu menghadap Allah dengan hatinya. Sesungguhnya orang-orang yang berakal tidak menyukai apa-apa yang berbahaya bagi dirinya dan yang sedikit manfaatnya.[sumber: As-Sunnah 11/IX/1427H/2006M]

Makan Untuk Hidup Atau Hidup Untuk Makan


PUASA, MERUGIKAN KESEHATAN?

Awal bulan September 2008 nanti bulan Ramadhan tiba menjelang. Besarnya cobaan dan rintangan menahan nafsu yang dihadapi bagi sebagian orang yang menunaikan ibadah puasa sedikit banyak telah menggeser potensi esensi manfaat dahsyat yang dimiliki pada ibadah berpuasa untuk kesehatan tubuh manusia. Tidak sedikit sebagian orang yang berorientasi puasa sebagai beban yang wajib mau tidak mau dilakukan.

Dalam berpuasa, yang paling berat untuk dilakukan pada sebagian banyak orang adalah menahan haus dan lapar. Proses beratnya usaha menahan lapar dan haus ditemui semakin menjadi disaat puasa mau tidak mau dilakukan dari terbit hingga terbenamnya matahari lantaran tempo waktu tersebut merupakan disaat manusia pada umumnya beraktifitas.
Ditambah lagi, ditengah usaha menahan rasa lapar dan haus di terik siang hari, para kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa harus pula menahan nafsu amarah yang dapat membatalkan ibadah puasanya. Seperti yang kita maklumi, betapa beratnya menahan nafsu amarah ketika kondisi perut tengah kosong.

Belum lagi urusan seksualitas, untuk kebutuhan biologis yang satu ini haram hukumnya untuk dilakukan selagi menjalani ibadah puasa di siang hari. Hal ini membuat semakin tambah skor beban beratnya sebuah ibadah puasa. Serta tidak ketinggalan, proses ini wajib nan mau tidak mau bin sudi tidak sudi dilakukan dalam kurun waktu sedikitnya 29 hari non-stop.

Namun dibalik sederet nomor penderitaan yang telah disebutkan diatas, jika kita mampu menggali lebih dalam mengenai manfaat serta kegunaan ibadah berpuasa untuk stabitlitas tubuh biologis manusia, maka kita akan mendapatkan nilai tambah kesehatan bagi tubuh kita disaat kita sedang menjalani puasa.

MAKAN UNTUK HIDUP atau HIDUP UNTUK MAKAN?

Profesor dan konsultan pengobatan penyakit dalam RS Medistra, Prof. dr. Suwandhi,Widjaja, Sp. PD, Ph.D mengemukakan, dalam sebuah riset penelitian, telah dilakukan uji coba kepada tiga buah ekor tikus mengenai sistem pola makan berpuasa. Pada tikus uji coba nomor 1 diberikan ritme pola makan yang berlebih. Pada tikus uji coba nomor 2, diberikan ritme pola makan yang normal. Sementara, pada tikus percobaan nomor 3, diterapkan interval ritme pola makan dengan jeda paling jarang. Terbukti, pada percobaan tersebut tersimpulkan, tikus nomor 3 memiliki usia dan daya tahan paling kuat diantara tikus pecobaan nomor 1 & 2.

Sama halnya pada manusia, dalam setiap kasus penyakit kardiovaskuler ataupun penyakit dalam lainnya, yang banyak berpotensi berujung kepada kematian sebagian besar penyebab utama timbulnya penyakit tersebut ialah terpicu dari pola makan penderita yang berlebihan. Tubuh yang gemuk belum tentu merupakan tubuh yang sehat, bahkan semakin beresiko menemui penyakit.

Menurut beliau, setiap makhluk hidup memiliki pola makan yang tertentu. Contohnya, seekor sapi hanya mampu memakan rumput serta tumbuhan lainnya. Jika sapi diberi makanan daging ataupun makanan selain tumbuhan, maka otomatis tubuhnya akan menolak secara sistematis. Hal ini ditenggarai karena dari sistem pencernaan sapi hingga ke distribusi penyerapan nutrisi untuk tubuhnya secara keseluruhan hanya sesuai untuk konsumsi tumbuh-tumbuhan. Begitu juga dengan seekor singa, jika seekor singa dipaksakan untuk menerapkan pola makan hewan golongan herbivora, maka sistem mekanisme pencernaan singa yang notabene telah khusus di disain sedemikian rupa hanya untuk konsumsi daging akan terganggu dan mempengaruhi metabolisme tubuh sang singa.

Pada manusia, hal serupa akan terjadi jika sebuah pola makan diterapkan secara diluar standar kemampuan sistem pencernaan dan distribusi nutrisi tubuh manusia. Metabolisme tubuh manusia itu sendiri akan terganggu malah berpotensi mengundang komplikasi beberapa penyakit. Bahkan dalam berbagai kasus tertentu dapat berindikasi ke penuaan dini.
Hal demikian terimplementasi pada penderita diabetes mellitus, jika pengaturan pola makan dengan diet disiplin maka resiko dari diabetes mellitus dapat diminimalisir.

Dengan melakukan pengurangan ritme pola makan dengan tujuan mengembalikan stabilitas metabolisme tubuh selayaknya berpuasa, maka nilai tambah kebaikan manfaat berpuasa adalah salah satunya membebaskan ancaman resiko-resiko timbulnya penyakit-penyakit mampu dinetralisir secara alami.

DETOKSIFIKASI

Nilai tambah lainnya manfaat dari berpuasa ialah detoksifikasi. Dengan mengurangi pola makan yang ada serta diiringi ritme aktifitas yang tetap dan konsisten, maka tubuh manusia secara sistematis otomatis akan mengeluarkan residu dari hasil metabolisir secara signifikan. Detoksifikasi sangat membantu untuk pengembalian keseimbangan metabolisme tubuh manusia, Pada mulanya, entah darimana, manusia dari dahulu mengadopsi pola makan 3 kali dalam 1 hari.

Tidak ada dalil yang pasti dari pihak manapun yang memperkuat akan aksioma pola makan manusia menjadi 3 kali sehari. Setiap tubuh manusia memiliki keunikan masing-masing. Ada tubuh yang mampu mengakomodasi asupan nutrisi cukup dengan makan 2 kali dalam sehari, ada juga tubuh lainnya yang bahkan membutuhkan asupan nutrisinya dengan ritme pola makan 4 kali sehari. Secara normal, lambung manusia sudah ‘meminta’ bahan untuk dicerna kembali sedikitnya dalam interval 2 jam.

Dengan ritme pola makan demikian, potensi pola makan berlebihan berkemungkinan besar mampu teraplikasi secara diluar kontrol atau kebablasan. Tubuh berpotensi besar menjadi berlebihan stok lemak maupun enzim-enzim yang tidak mampu lagi dicerna oleh metabolisme tubuh sehingga menjadi mengendap, menjadi residu yang mengundang bahaya dengan dalam hitungan waktu yang diibaratkan sebagai bom waktu.

Dengan adanya proses kontrol pola makan dengan cara berpuasa dan dilakukan konsisten selama 30 hari, jika dilakukan dengan baik dan benar, secara signifikan racun tubuh yang akan keluar dengan sendirinya. Secara rinci, disaat tubuh manusia berpuasa, maka tubuh dengan sendirinya akan mencari asupan alternatif dengan proses menghabiskan stok enzim dan zat yang selama ini menumpuk di dalam tubuh untuk menghasilkan energi guna menopang kebutuhan aktifitas tubuh dalam keseharian.

Profesor yang terlihat jauh lebih muda dari usia seharusnya ini pun telah menerapkan pola makan selayaknya berpuasa untuk kebaikan jasmaniah dan rohaniah dirinya, pengadopsian sistem pengaturan pola makan ‘puasa’ ini dirasa telah sedikit banyak memberikan manfaat pada dirinya.

Namun manfaat kontrol pola makan masih kurang untuk hasil yang optimal guna menuju konsep pengontrol metabolisme tubuh. Pengontrol nafsu makan baru cukup meliputi satu aspek dalam rangka tujuan mengungkap kebaikan kesehatan dari implementasi ibadah puasa. Masih diperlukan satu usaha pengendalian untuk meliputi aspek lainnya disamping pengendalian jasmani, yakni aspek pengendalian kesehatan rohani yang mencakup ruang lingkup kondisi kejiwaan dengan menahan amarah.

TIDAK MARAH = SEHAT

Selain manfaat kontrol pola makan sebagai kontrol stabilitas metabolisme tubuh manusia, dengan berpuasa manusia juga mendapatkan manfaat kebaikan tubuh untuk kesehatan yang serupa dari menahan nafsu amarah.

Beberapa penyakit seperti halnya jantung koroner, tekanan darah tinggi, gastritis hingga kanker tulen berelevan dengan ketidakmampuan menahan diri, apalagi penyakit-penyakit psikiatrik.
Manifesto lemahnya kontrol menahan diri dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya kasus tidak mampu melihat pesaing lebih maju, tidak mampu menahan amarah, tidak mampu menahan diri untuk bersabar dan lain sebagainya. Dimana secara psikis, jika hal-hal sepele tersebut menjadi beban pikiran, maka metabolisme tubuh pun akan ikut terpengaruh, dimana dapat berindikasi ke penyakit-penyakit dalam yang beresiko tinggi bahkan berimplikasi kearah gangguan kejiwaan.

Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa disaat manusia sedang mengalami kodisi psikis marah, baik yang dipendam maupun yang dimuntahkan akan memicu rangkaian refleks sympatis yakni berupa peningkatan kadar hormon katekholamin (adrenalin) dalam darahnya. Hormon katekholamin ini akan menimbulkan refleks siaga yang dapat kita rasakan sensasinya seperti terpacunya ritme detak jantung, otot-otot menegang, tekanan darah naik, keringat dingin bermunculan di beberapa bagian tubuh, pembuluh darah diotot melebar sementara di visceral (organ dalam) menyempit, nafas memburu guna menyeimbangi suplai kebutuhan oksigen sebanyak-banyaknya dan mata dalam kondisi akomodasi penuh.

Membanjirnya hormon katekholamin pun akan membangkitkan emosi sesaat dan cukup membangkitkan tindakan yang dahsyat dalam kapasitas energi seperti mempersiapkan fisik tubuh untuk “bertempur atau kabur”. Hal ini dikarenan dimana efek adrenalin memang di disain sedemikian rupa untuk menghadapi situasi-situasi darurat.

Semua itu, jika dibiarkan berlangsung lama dalam kurun waktu jangka panjang atau menjadi sebuah kebiasaan, malah akan amat sangat membahayakan kesehatan dan mempercepat proses penuaan.Secara empiris telah ditemui yang menemukan bukti bahwasanya kondisi psikis manusia disaat marah yang menahun dapat mengundang berbagai resiko potensi kematian.

Penelitian dari Duke University, Durham, Amerika Serikat, Dr. Redford Wiliams MD, Ph.D, menyimpulkan prospektifnya bahwa dokter-dokter yang dahulunya mempunyai skor tertinggi pada sebuah tes “Sikap Bermusuhan Selama Menjadi Mahasiswa di Fakultas Kedokteran” ternyata memiliki resiko 7 kali lebih besar kemungkinan meninggal diusia 50 tahun bila dibandingkan dengan mereka yang skor permusuhannya lebih rendah.

Kepala Behavioral Medicine of National Heart, Lung and Blood Institute Peter Kaufman, mengemukakan: “Bila seorang berumur 20-an seringkali marah-marah, maka setiap serangan amarah akan menumpukkan tekanan atau stress tambahan bagi jantung serta tekanan darah. Bila hal tersebut berlangsung terus menerus maka akan bersifat destruktif, karena golakan darah yang mengalir melalui arteri koroner bersama dengan percepatan detak jantung dapat menimbulkan robekan-robekan mikro pada pembuluh tersebut dan berpotensial sebagai tempat tumbuhnya plak yang menjurus pada penyakit arteri koroner.”

Sebuah studi di Standford University Medical School terhadap 1012 pria dan wanita yang menderita penyakit jantung pertama yang telah dipantau selama 8 tahun menunjukkan bahwa kaum pria yang paling agresif dan paling suka bermusuhan mempunyai resiko tertinggi terkena serangan jantung kedua.

Senada dengan hasil studi di Yale school of medicine, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, penelitian dilakukan terhadap 929 pria yang pernah mengalami serangan jantung dan dilacak selama 10 tahun. Tersimpulkan, kaum pria yang termasuk golongan mudah terpancing amarahnya terbukti resiko meninggal karena serangan jantung 3 kali lipat dibanding kaum pria yang berperangai tenang.

Dengan berpuasa, kontrol emosi yang berintegrasi dengan kontrol pola makan justru menghasilkan proses kontrol metabolisme tubuh dengan hasil optimal serta menjadikan tubuh lebih sehat dari sebelumnya.

Setelah pemaparan singkat diatas mengenai berbagai fakta ilmiah dari berbagai sumber telaah ilmiah yang telah mengemukakan perihal kebaikan kesehatan mengenai manfaat penerapan ibadah puasa bagi tubuh manusia, apakah masih membuat anda beban untuk berpuasa? Nah, selamat menunaikan ibadah puasa!


Tuesday, September 16, 2008

TAK ADA NABI BARU LAGI SETELAH RASULULLAH

Di bawah adalah dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi sesudahnya. Ini adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang mematahkan argumen kelompok Ahmadiyah yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

Ketika disodorkan ayat: QS AL AHZAB 40: ”Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”. ada yang berargumen bahwa Nabi Muhammad hanya Nabi terakhir. Bukan Rasul terakhir. Namun hadits di bawah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya Nabi terakhir, tapi juga Rasul terakhir:

Rasulullah SAW menegaskan:
“Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”.
(Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).


Inilah 17 dalil tak ada Nabi baru setelah Muhammad

1. QS AL AHZAB 40:
”Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW:
“Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

5. Khutbah terakhir Rasulullah …

” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …”

6. Rasulullah SAW menjelaskan:
“Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku"
(Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

7. Rasulullah SAW menegaskan:
“Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”.
(Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

8. Rasulullah SAW menyatakan:
“Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: - Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. - Aku diberi kemenangan karena musuh gentar menghadapiku - Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. - Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku"
(Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)

9. Rasulullah SAW menegaskan:
“Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”.
(Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

10. Rasulullah SAW menjelaskan:
"Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku”.
(Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

11. Rasulullah SAW menjelaskan:
“Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”.
(Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal).

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan:
“Saya mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-’As menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”.
(Musnad Ahmad, Marwiyat ‘Abdullah bin ‘Amr ibn-’As).

13. Rasulullah SAW berkata:
”Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”.
(Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud).
(Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).

14. Rasulullah SAW berkata:
“Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab”. (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).

15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”.
(Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).

16. Rasulullah SAW menjelaskan:
“Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar".
(Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

17. Rasulullah SAW berkata:
“Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun”.
(Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)

Wassalam

M. Nurhuda

Dari tiada menjadi ada

Harun Yahya
Tahukah Anda bahwa segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar Anda, tubuh Anda sendiri, rumah yang Anda huni, kursi yang Anda duduki, ayah dan ibu Anda, pepohonan, burung-burung, tanah dan buah-buahan, singkatnya, semua makhluk hidup dan benda mati yang mampu Anda bayangkan, timbul melalui bergabungnya atom-atom yang disebabkan oleh “Dentuman Besar” atau Big Bang? Sadarkah Anda akan kenyataan bahwa, setelah ledakan ini, muncullah keteraturan yang sempurna di seluruh jagat raya? Lalu, apakah “Dentuman Besar” itu?
Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big Bang.
Penciptaan suatu keteraturan sempurna menyusul peristiwa Big Bang sama sekali bukanlah gejala yang dapat dianggap sebagai peristiwa biasa. Pikirkanlah tentang kenyataan bahwa beribu-ribu jenis ledakan sering terjadi di bumi, tetapi tak ada keteraturan yang dihasilkannya. Bahkan sebaliknya, semua itu mengarah ke akibat yang menghancurkan, merusak, dan membinasakan. Contohnya, bila bom atom atau bom hidrogen, letusan gunung berapi, ledakan gas alam, dan ledakan yang terjadi di matahari diamati, kita dapat melihat bahwa dampak yang ditimbulkannya selalu membahayakan. Akibat yang bersifat membangun keteraturan atau sesuatu yang lebih baik tidak pernah diperoleh sebagai akibat dari suatu ledakan. Akan tetapi, menurut data ilmiah yang diperoleh dengan bantuan teknologi modern, Big Bang, yang terjadi ribuan tahun lalu, menyebabkan perubahan dari tiada menjadi ada, bahkan menghadirkan keberadaan yang sangat teratur dan selaras.
Sekarang, mari kita pikirkan contoh berikut: Di bawah tanah, terjadi ledakan dinamit dan, setelah ledakan ini, istana paling indah yang pernah disaksikan dunia, lengkap dengan jendela, pintu, dan perabotan yang mewah dan indah, tiba-tiba muncul. Masuk akalkah untuk menyatakan bahwa, “Ini menjadi ada secara kebetulan”? Dapatkah istana itu terwujud dengan sendirinya? Tentu saja tidak!
Alam semesta yang terbentuk setelah Big Bang merupakan sistem yang demikian hebat, terencana dengan sangat cermat, dan menakjubkan sehingga ini sudah pasti tidak mungkin disejajarkan dengan istana yang ada di bumi. Dalam keadaan seperti ini, sama sekali tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa alam semesta menjadi ada dengan sendirinya. Alam semesta tiba-tiba saja muncul menjadi ada dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan kepada kita keberadaan Pencipta Yang menciptakan benda atau materi dari ketiadaan dan Yang menjaganya setiap saat dalam kendali-Nya. Dialah Yang Maha Bijaksana dan Mahakuasa. Sang Pencipta ini adalah Allah, Yang Mahaperkasa.

Mana yang lebih dulu, Nabi adam atau manusia purba


Assalamu’alaiku Wr.Wb

Langsung aja pak uztadz. Sebetulnya pertanyaan ini sudah lama sekali ada di dalam benak saya. Pertanyaan ini muncul pada saat saya duduk di bangku SMP dan mulai mengenal pelajaran tentang Manusia Purba dan Kehidupan Dinosaurus atau yang lebih kita kenal dengan zaman Prasejarah.

Seperti yang kita ketahui, Nabi Adam adalah manusia pertama kali yang Allah SWT ciptakan dan turunkan ke Bumi ini. Padahal kita tahu, bahwa ada kehidupan Prasejarah, di mana di sana hidup manusia-manusia purba yang menurut teori adalah nenek moyang manusia atau manusia yang ber-evolusi.

Analisa saya:

1. Apabila Nabi Adam yang duluan diturunkan ke bumi ini, berarti masa-masa Kenabian Islam berbarengan dengan zaman Dinosaurus dan Manusia Purba? Hanya saja terdapat perbedaan tempat saja. Dan berarti Manusia Purba bukanlah Nenek Moyang Manusia, karena memang sudah ada Nabi Adam. Dan jika hal ini benar, maka teori dan pelajaran yang ada pada kurikulum IPA adalah salah. Karena ternyata nenek moyang manusia bukanlah Manusia Purba, melainkan Nabi Adam, karena pada kenyataannya manusia tidak pernah berevolusi.

2. Tapi, apabila Manusia Purba yang duluan, berarti Nabi Adam bukanlah makhluk yang pertama kali diciptakan Allah. Dan makhluk apakah Manusia Purba itu?

Terima kasih atas jawabannya Pak Ustadz.

Salam hormat saya,

Budy Prasetyabudykacel

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tanpa harus mengkonfrontir teroi manusia purba dengan Al-Quran, sebenarnya ilmu pengetahuan terbaru sudah mematahkannya. Beberapa temuan terakhir justru menunjukkan bahwa teori tentang manusia purba semakin jelas kebohongannya. Bukti-bukti ilmiyah yang dahulu sering diajukan oleh kalangan evolusionis, satu per satu kini terbantahkan. Semakin hari semakin terkuak fakta bahwa teori manusia purba adalah sebuah kebohongan besar.

Selama ini kita memang dicekoki teori manusia purba dalam kurikulum pendidikan. Para evolusionis (AJARAN DARWINISME) telah merekayasa skema khayalan dengan sangat fantastis. Bahkan seringkali dilengkapi dengan ilustrasi yang nampak sangat realistis. Konyolnya, semua itu masuk ke dalam kurikulum pendidikan di seluruh dunia, termasuk di dunia Islam.

Mereka memasukkan Australopithecus, ras kera yang telah punah sebagai ras nenek moyang manusia. Padahal ada jurang besar dan tak berhubungan antara kera dan manusia.
Adapun ras manusia primitif menurut mereka, sebenarnya hanya variasi dari ras manusia modern, namun dibesar-besarkan sebagai spicies yang berbeda. Faktanya, tidak ada urutan kronologis seperti itu. Banyak yang hidup pada priode yang sama yang berarti tidak ada evolusi, bahkan ada yang lebih tua dari jenis yang diklaim sebagai nenek moyangnya.

Tatkala para evolusionis tak juga menemukan satu fosilpun yang bisa mendukung teori mereka, terpaksa mereka melakukan kebohongan. Contoh yang paling terkenal adalah manusia Piltdown yang dibuat dengan memasangkan tulang rahang orang utan pada tengkorak manusia. Fosil ini telah membohongi dunia ilmu pengetahuan selama 40 tahun.

Kisahnya pada tahun 1912 seorang ahli palaentologi amatir bernama Charles Dawson mengklaim bahwa dia telah menemukan sebuah tulang rahang dan fragmen tengkorak di sebuah lubang dekat Piltdown, Inggris. Tulang itu mirip tulang rahang hewan namun gigi dan tengkoraknya seperti milik manusia. Spesimen ini dinamakan Manusia Piltdown dan diduga berumur 500.000 tahun.

Rekonstruksi terhadap manusia Piltdown dilakukan dan setelah dipajang di berbagai musium sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun sejumlah penafsiran dan gambar dibuat. Banyak artikel ilmiyah tentang manusia piltdown ini, termasuk 500 tesis doktor tentangnya.

Namun pada tahun 1953, hasil pengujian secara menyeluruh terhadap fosil tersebut menunjukkan kepalsuannya. Tengkorak tersebut berasal dari manusia yang hidup beberapa ribu tahun yang lalu, sedangkan tulang rahangnya berasal dari bangkai kera yang baru terkubur beberapa tahun. Gigi-giginya ditambahkan kemudian agar terlihat mirip manusia lalu persendiannya disumpal. Setelah itu seluruh fosil diwarnai dengan potasium dokromat agar tampak kuno.

Kalau kita menyodorkan ayat Allah SWT di dalam Al-Quran Al-Karim dan hadits Rasulullah SAW tentang manusia pertama, besar kemungkinan para hamba sahaya teori evolusi akan menentangnya. Mereka akan mencari alibi dan dalih untuk membuat penafsiran ‘lain’ alias menentang kebenaran yang ada di dalamnya.

Berapa banyak dari umat Islam yang masih saja percaya bahwa ada manusia sebelum nabi Adam. Fanatisme buta kepada teori evolusi telah membuat mereka menentang apa yang telah Allah SWT sampaikan dalam kitab suci.

Jadi jawaban yang benar adalah bahwa manusia purba tidak pernah ada, sebab teori evolusi juga tidak pernah terbukti. Ada sejuta kejanggalan yang memaksa teori evolusi termasuk teori manusia purba harus dihapus dari kurikulum pendidikan sekolah.

Adam alaihissalam adalah makhluk cerdas pertama di muka bumi. Dengan kedatangan beliau, maka untuk pertama kalinya bumi didatangi oleh makhluk cerdas dari luar angkasa (alien) / Syurga. Kecerdasan manusia sungguh merupakan loncatan besar dalam sejarah bumi, yang sebelumnya hanya dihuni oleh makhluk-makhluk kelas bawah berupa hewan dan tumbuhan. Tidak pernah ada makhluk asli bumi yang mengalami proses evolusi, kecuali hanya ada di film-film Holywood saja.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Ahmadiyah Alat Asing untuk Menjajah Indonesia



Keterlibatan pihak asing sudah sangat kentara dalam sejarah Ahmadiyah. Penjajah Inggris memang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada gerakan ini di India, serta rela memberikan dana yang tidak terbatas demi tegaknya dakwah Ahmadiyah.

Padahal seluruh ulama di dunia telah bersepakat untuk menyebut bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari agama Islam, karena prinsip dasarnya bertentangan dengan akidah Islam. Yang utama karena menjadikan Mirza sebagai nabi dan menerima wahyu.

Namun Ahmadiyah sangat bermanfaat buat penjajah Inggris saat itu, sebab Ahmadiyah akan membuat jihad dan perlawanan umat Islam terhadap Inggris akan mengendor. Dengan keberadaan Ahmadiyah, penjajah tidak perlu lagi capek-capek menghadapi rakyat, biar saja rakyat dilawan oleh rakyat juga.

Inggris cukup mengadu domba sesama bangsa India, sambil memberikan dukungan penuh kepada aliran sesat Ahmadiyah.

Di dalam buku Tabligh-i-risalat, vol. VII halaman 17, Mirza menulis:

"Aku yakin bahwa setelah pengikut-pengikutku bertambah, maka mereka yang percaya pada doktrin jihad akan makin berkurang. Oleh karena menerima aku sebagai Messiah dan Mahdi maka sekaligus berarti taat pada perintahku, yaitu dilarang berjihad terhadap Inggris. Bahkan wajib atas mereka berterima-kasih dan berbakti pada kerajaan itu."

Jadi sejak awal Ahmadiyah memang alat yang digunakan oleh penjajah Inggris (dikendarai oleh Freemasonry) untuk meredam jihad dan perlawanan umat Islam India. Maka kalau sekarang ini Ahmadiyah terkesan dibackingi oleh negara-negara besar, rasanya memang ada benang merahnya.

Sebab buat apa lagi pemerintah merasa takut untuk melarang gerakan Ahmadiyah, kalau bukan karena takut tekanan pihak asing. Pemerintah SBY sekarang ini sudah didukung oleh semua ulama, bahkan Badan Pengawasan Aliran Kepercayaan pun sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah itu sesat. Bola sekarang berada di tangan pemerintah.

Logikanya, apa sih susahnya mengeluarkan pengumuman sesatnya Ahmadiyah? Kenapa sebegitu loyo pemerintah untuk melindungi akidah bangsa ini dari paham sesat Ahmadiyah? Jangan-jangan ada apa-apanya.

Maka kalau kita kaitkan dengan keterlibatan penjajah Inggris saat mendirikan Ahmadiyah di India dahulu, rasanya tidak aneh kalau keberadaan Ahmadiyah ini memang didukung oleh kekuatan asing, yang membuat pemerintah kita kelihataan jadi aras-arasan, takut melarang, atau berlagak pilon, atau entah kenapa, yang jelas sikap pemerintah yang plin-plan itu sangat menunjukkan bahwa ada tekanan international dari luar. Entah siapa mereka.

Empat Negara Asing Menekan Indonesia

Dan logika yang kami sebutkan di atas ternyata terbukti. Statemen dari pak Nasarudiin Umar yang menjawab sebagai Dirjen Bimas Islam Departemen Agama secara tegas telah membenarkan teori itu.

"Memang ada empat negara yang mengimbau agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Yaitu dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan satu lagi saya lupa. Suratnya ditujukan ke Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya." Begitu ujar beliau beberapa waktu yang lalu.

Apa yang diungkapkan oleh pak Nasarudin ini sebuah pernyataan jelas dan tanpa malu-malu. Dan semua ini menjelaskan dengan mudah, mengapa sampai hari ini pemerintah masih 'sakit gigi' untuk melarang Ahmadiyah secara terbuka.

Meski pak Nanasrudin mengatakan bahwa pemerintah tidak terpengaruh dengan tekanan itu, namun yang namanya ancaman tetap saja ada dampak psikologisnya. Semakin lama pemerintah bersikap plin-plan, maka semakin membutikan bahwa tekan asing itu memang ada dan berjalan dengan sangat efektif.

Penjelasan Nasarudin kemudian dikuatka oleh ketua MPR-RI, Dr Hidayat Nur Wahid, MA. Dalam salah satu kesempatan beliau mengatakan bahwa manuver beragam yang dilakukan oleh pihak tertentu yang menggangap pembubaran Ahmadiyah sebagai pelangaran HAM dalam beragama perlu dicurigai, karena dikhawatikan itu salah satu cara-cara yang dilakukan pihak asing untuk merusak kedaulatan Indonesia.

"Yang kita khawatirkan itu cara pihak asing untuk melakukan intervensi terhadap kedaulatan Indonesia, melalui pendanaan kepada LSM yang vokal terhadap isu HAM," ujarnya.

Pemerintah Wajib Melindungi Umat Islam

Padahal seharusnya pemerintah memikirkan nasib 200 juta umat Islam di negeri ini yang agamanya dirusak, diobok-obok, dihina dan dilecehkan oleh kekuatan asing yang anti Islam itu.

Atau jangan-jangan, memang ditunda-tundanya pelarangan itu disengaja untuk memancing terjadinya tindak anarkhi berikutnya. Tujuannya agar stigma bahwa di Indonesia ada Islam ekstrem semakin laku didagangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan di dunia internasional.

Maka sebaiknya pemerintah kita ini segara sadar dan tahu diri, tidak ada gunanya selalu mengikuti kemauan asing. Kenapa sih tidak sekali-sekali mandiri dan punya harga diri.

Jangan mau hanya dijadikan hewan sirkus yang ditabuhi genderang, lalu berjoget mengikuti irama buatan penjajah. Kita sudah merdeka sejak tahun 1945, tapi kenapa mental terjajahnya masih saja melekat. Apakah karena kita terlalu lama dijajah Belanda?

Di Indonesia, ternyata mental ini masih ada. Contoh-contoh argumen dan berita pembelaan Ahmadiyah sempat tampak pada Metro TV dan RCTI. Mereka telah menyiarkan dukungan eksistensi Ahmadiyah di Indonesia. Media-media ini berkarakter agak mengedepankan nasib bangsa atau nasionalisme daripada pembelaannya pada Islam. Mari bersatu, bergerak, imbangi pemberitaan kedua media tersebut dengan pemberitaan yang lebih membela umat Islam!




Monday, September 15, 2008

Sejarah Mujahid KARTOSUWIRYO dan DII/TII (Negara Islam Indonesia)


Tokoh yang satu ini, menurut berbagai pandangan masyarakat bangsa Indonesia saat ini adalah seorang pemberontak. Citranya sebagai "pemberontak", terlihat ketika dirinya berusaha menjadikan negara Indonesia menjadi sebuah Negara Islam. Namun sangatlah aneh, perjuangan yang dilakukannya itu justru mendapat sambutan yang luar biasa dari daerah-daerah lain di Indonesia, seperti di Jawa Tengah, di Sulawesi Selatan, di Kalimantan, dan di Aceh.
Timbul satu pertanyaan, benarkah dia itu penjahat perang sebagaimana yang dinyatakan oleh pemerintah? Atau mungkin ini sebuah penilaian yang sangat subjektif dari pemerintah yang ingin berusaha melanggengkan kekuasaan tiraninya terhadap rakyat Indonesia. Sehingga diketahui, pemerintah sendiri ketika selesai menjatuhkan vonis hukuman mati terhadapnya, tidak memberitahukan sedikit pun keterangan kepada pihak keluarganya di mana pusaranya berada.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo demikian nama lengkap dari Kartosoewirjo, dilahirkan 7 Januari 1907 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Kota Cepu ini menjadi tempat di mana budaya Jawa bagian timur dan bagian tengah bertemu dalam suatu garis budaya yang unik.
Ayahnya, yang bernama Kartosoewirjo, bekerja sebagai mantri pada kantor yang mengkoordinasikan para penjual candu di kota kecil Pamotan, dekat Rembang. Pada masa itu mantri candu sederajat dengan jabatan Sekretaris Distrik. Dalam posisi inilah, ayah Kartosoewirjo mempunyai kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu, menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan garis sejarah anaknya. Kartosoewirjo pun kemudian mengikuti tali pengaruh ini hingga pada usia remajanya.
Dengan kedudukan istimewa orang tuanya serta makin mapannya "gerakan pencerahan Indonesia" ketika itu, Kartosoewirjo dibesarkan dan berkembang. Ia terasuh di bawah sistem rasional Barat yang mulai dicangkokkan Belanda di tanah jajahan Hindia. Suasana politis ini juga mewarnai pola asuh orang tuanya yang berusaha menghidupkan suasana kehidupan keluarga yang liberal. Masing-masing anggota keluarganya mengembangkan visi dan arah pemikirannya ke berbagai orientasi. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang tinggal di Surakarta pada tahun 50-an yang hidup dengan penuh keguyuban, dan seorang kakak laki-laki yang memimpin Serikat Buruh Kereta Api pada tahun 20-an, ketika di Indonesia terbentuk berbagai Serikat Buruh.
Pada tahun 1911, saat para aktivis ramai-ramai mendirikan organisasi, saat itu Kartosoewirjo berusia enam tahun dan masuk Sekolah ISTK (Inlandsche School der Tweede Klasse) atau Sekolah "kelas dua" untuk kaum Bumiputra di Pamotan. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan sekolah ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Rembang. Tahun 1919 ketika orang tuanya pindah ke Bojonegoro, mereka memasukkan Kartosoewirjo ke sekolah ELS (Europeesche Lagere School). Bagi seorang putra "pribumi", HIS dan ELS merupakan sekolah elite. Hanya dengan kecerdasan dan bakat yang khusus yang dimiliki Kartosoewirjo maka dia bisa masuk sekolah yang direncanakan sebagai lembaga pendidikan untuk orang Eropa dan kalangan masyarakat Indo-Eropa.
Semasa remajanya di Bojonegoro inilah Kartosoewirjo mendapatkan pendidikan agama dari seorang tokoh bernama Notodihardjo yang menjadi "guru" agamanya. Dia adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah. Tidak berlebihan ketika itu, Notodihardjo sendiri kemudian menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam alam pikir Kartosoewirjo. Pemikiran-pemikirannya sangat mempengaruhi bagaimana Kartosoewirjo bersikap dalam merespon ajaran-ajaran agama Islam. Dalam masa-masa yang bisa kita sebut sebagai the formative age-nya.
Pada tahun 1923, setelah menamatkan sekolah di ELS, Kartosoewirjo pergi ke Surabaya melanjutkan studinya pada Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi. Pada saat kuliah inilah (l926) ia terlibat dengan banyak aktivitas organisasi pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya.
Selama kuliah Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Islam. Ia mulai "mengaji" secara serius. Saking seriusnya, ia kemudian begitu "terasuki" oleh shibghatullah sehingga ia kemudian menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya kemudian hanya untuk mempelajari Islam semata dan berbuat untuk Islam saja. Dia pun kemudian sering meninggalkan aktivitas kuliah dan menjadi tidak begitu peduli dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh sekolah Belanda, tentunya setelah ia mengkaji dan membaca banyak buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, dari kedokteran hingga ilmu-ilmu sosial dan politik.
Dengan modal ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak sedikit itu, ditambah ia juga memasuki organisasi politik Sjarikat Islam di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto banyak mempengaruhi sikap, tindakan dan orientasi Kartosuwirjo. Maka setahun kemudian, dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menjadi aktivis politik, dan didapati memiliki sejumlah buku sosialis dan komunis yang diperoleh dari pamannya yaitu Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal pada zamannya. Sekolah tempat ia menimba ilmu tidak berani menuduhnya karena "terasuki" ilmu-ilmu Islam, melainkan dituduh "komunis" karena memang ideologi ini sering dipandang sebagai ideologi yang akan membahayakan. Padahal ideologi Islamlah yang sangat berbahaya bagi penguasa yang zhalim. Tidaklah mengherankan, kalau Kartosuwirjo nantinya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran politik sekaligus memiliki integritas keislaman yang tinggi. Ia adalah seorang ulama besar, bahkan kalau kita baca tulisan-tulisannya, kita pasti akan mengakuinya sebagai seorang ulama terbesar di Asia Tenggara.
Aktivitas Kartosoewirjo
Semenjak tahun 1923, dia sudah aktif dalam gerakan kepemudaan, di antaranya gerakan pemuda Jong Java. Kemudian pada tahun 1925, ketika anggota-anggota Jong Java yang lebih mengutamakan cita-cita keislamannya mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB). Kartosoewirjo pun pindah ke organisasi ini karena sikap pemihakannya kepada agamanya. Melalui dua organisasi inilah kemudian membawa dia menjadi salah satu pelaku sejarah gerakan pemuda yang sangat terkenal, "Sumpah Pemuda".
Selain bertugas sebagai sekretaris umum PSIHT (Partij Sjarikat Islam Hindia Timur), Kartosoewirjo pun bekerja sebagai wartawan di koran harian Fadjar Asia. Semula ia sebagai korektor, kemudian diangkat menjadi reporter. Pada tahun 1929, dalam usianya yang relatif muda sekitar 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi redaktur harian Fadjar Asia. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, mulailah dia menerbitkan berbagai artikel yang isinya banyak sekali kritikan-kritikan, baik kepada penguasa pribumi maupun penjajah Belanda.
Ketika dalam perjalanan tugasnya itu dia pergi ke Malangbong. Di sana bertemu dengan pemimpin PSIHT setempat yang terkenal bernama Ajengan Ardiwisastera. Di sana pulalah dia berkenalan dengan Siti Dewi Kalsum putri Ajengan Ardiwisastera, yang kemudian dinikahinya pada bulan April tahun 1929. Perkawinan yang sakinah ini kemudian dikarunia dua belas anak, tiga yang terakhir lahir di hutan-hutan belantara Jawa Barat. Begitu banyaknya pengalaman telah menghantarkan dirinya sebagai aktor intelektual dalam kancah pergerakan nasional.
Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia masuk sebuah organisasi kesejahteraan dari MIAI (Madjlis Islam 'Alaa Indonesia) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut.'
Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga Suffah yang pernah dia bentuk. Namun kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.
Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Sesungguhnya dia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Tetapi proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada Republik dan menerima dasar "sekuler"-nya.
Namun sejak kemerdekaan RI diproklamasikan (17 Agustus 1945), kaum nasionalis sekulerlah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang sekuler. Semenjak itu kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 70-an kalangan Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan Islam dan kaum nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dapat disebut sebagai pertentangan antara Islam dan negara.
Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara pemerintah Republik dengan Belanda. Di mana pada perjanjian tersebut berisi antara lain gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Sementara pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, maka menjadi pil pahit bagi Republik. Tempat-tempat penting yang strategis bagi pasukannya di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur --atau "kabur" dalam istilah orang-orang DI-- ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, Tentara Republik resmi dalam Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuan-ketentuannya. Soekarno menyebut "kaburnya" TNI ini dengan memakai istilah Islam, "hijrah". Dengan sebutan ini dia menipu jutaan rakyat Muslim. Namun berbeda dengan pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah lebih tahu apa makna "hijrah" itu.
Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat yang fobi dengan Negara Islam sebagai "Islam muncul dalam wajah yang tegang." Bahkan, peristiwa ini dimanipulasi sebagai sebuah "pemberontakan". Kalaupun peristiwa ini disebut sebagai sebuah "pemberontakan", maka ia bukanlah sebuah pemberontakan biasa. Ia merupakan sebuah perjuangan suci anti-kezhaliman yang terbesar di dunia di awal abad ke-20 ini. "Pemberontakan" bersenjata yang sempat menguras habis logistik angkatan perang Republik Indonesia ini bukanlah pemberontakan kecil, bukan pula pemberontakan yang bersifat regional, bukan "pemberontakan" yang muncul karena sakit hati atau kekecewaan politik lainnya, melainkan karena sebuah "cita-cita", sebuah "mimpi" yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam yang lurus.
Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur l962, menyatakan bahwa perjuangan suci Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah "pemberontakan". Hukuman mati kemudian diberikan kepada mujahid Kartosoewirjo.Tentang kisah wafatnya Kartosoewirjo, ternyata Soekarno dan A.H. Nasution cukup menyadari bahwa Kartosoewirjo adalah tokoh besar yang bahkan jika wafat pun akan terus dirindukan umat. Maka mereka dengan segala konspirasinya, didukung Umar Wirahadikusuma, berusaha menyembunyikan rencana jahat mereka ketika mengeksekusi Imam Negara Islam ini.
Sekalipun jasad beliau telah tiada dan tidak diketahui di mana pusaranya berada karena alasan-alasan tertentu dari pemerintahan Soekarno, tapi jiwa dan perjuangannya akan tetap hidup sepanjang masa. Sejarah Indonesia telah mencatat walaupun dimanipulasi dan sekarang bertambah lagi dengan darah mujahid Asy-syahid S.M. Kartosoewirjo.
HARI INI KAMI MENGHORMATIMU, HARI INI JUGA KAMI MENAPAKI JEJAK-JEJAKMU! Insya Allah.
Itulah makna dari firman Allah:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu mati); bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya".
(QS. 2:154).

Nikmatnya Hidup Merasa Cukup (Iman Manusia VS Iman Semut)


Abdullah bin Mas'ud menyampaikan bahwa dirinya sering mendengar Rasulullah Saw mengucapkan doa berikut:


Allahumma inni as'alukal huda wat tuqaa wal 'afafa wal ghina.
“Ya Allah, aku meminta kepadaMu petunjuk, ketaqwaan, harga diri dan kecukupan.”


Doa ini kerap dibaca oleh Rasulullah SAW. Tentu ummatnya pun harus mengikuti kebiasaan baik ini. Berkaitan dengan tema tulisan ini, maka 2 poin terakhir dari doa Rasulullah Saw di atas amatlah baik untuk kita telusuri.
Seorang muslim haruslah memiliki karakter yang kuat. Ia tidak boleh goyah dan dirinya hanya diperkenankan untuk bersandar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, ALLAH Swt. Dialah Ash Shamad (Dzat tempat bersandar) dimana kita dapat menyandarkan segala urusan yang kita hadapi. Karenanya seorang muslim dilarang untuk merusak harga dirinya karena sering merasa tidak cukup.


Siapa yang tidak suka dengan harta dan keduniawian? Tentu semua manusia suka. Namun untuk mendapatkan harta pun, agama ini telah mengatur rambu-rambunya. Tidak hanya harus halal sifat hartanya, cara mencarinya pun haruslah elegant.
Seorang sahabat bernama Hakim bin Hizam meminta sesuatu kepada Rasulullah Saw (saya mengira ia meminta harta ghanimah/fa'i yang menjadi haknya). Kemudian Rasulullah Saw memberikannya. Lalu untuk kedua kali Hakim meminta lagi kepada Rasulullah. Rasul pun memberikannya. Namun karena Hakim sudah dua kali datang untuk meminta, Rasul Saw pun memberinya nasehat:


“Hai Hakim, sesungguhnya harta itu memang manis dan mempesonakan. Siapa saja mendapatkannya dengan kemurahan jiwa, maka ia akan diberikan keberkahan pada harta itu. Tetapi siapa saja yang mendapatkannya dengan meminta-minta, maka ia tidak akan mendapatkan keberkahan. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (yang meminta)”. Hakim berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak akan merima sesuatupun dari seseorang sesudah pemberianmu ini, sampai saya meninggal dunia.”


Itulah janji Hakim yang dia ucapkan dihadapan Rasulullah, dan ia pun memegang teguh janji yang pernah dia ucapkan.
Suatu saat Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu kepadanya, tetapi ia tidak mau menerimanya. Demikian pula dengan Umar, ia pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu, tetapi Hakim tidak mau menerimanya, maka Umar berkata,


“Wahai umat Islam, saksikanlah, bahwa saya telah menawarkan harta rampasan yang menjadi haknya Hakim, sebagaimana yang telah diatur Allah, tetapi ia tidak mau mengambilnya.” Demikian, Hakim tetap tidak mau menerima pemberian dari seorang pun setelah menerima pemberian dari Nabi SAW hingga ia meningal dunia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hakim memegang janjinya kepada Rasulullah Saw. Barangkali ia sudah memahami bahwa dalam memberi ada kemuliaan jiwa, karenanya jangan pernah merusak harga diri (iffah) dengan meminta-minta kepada manusia.
Dalam sebuah kisah, raja Sulaiman As menangkap seekor semut kemudian ia masukkan ke dalam botol. Raja Sulaiman yang diberi kemampuan menguasai berbagai bahasa binatang pun berkata kepada semut,


"Wahai semut, apa makanan yang kau makan dan berapa banyak yang kau butuhkan dalam masa sebulan?"
Semut menjawab, "Aku biasa memakan gandum. Untuk sebulan aku hanya memerlukan satu biji gandum saja." "Baiklah, aku akan mencukupi kebutuhanmu dalam sebulan!" Raja Sulaiman lalu mengambil sebiji gandum dan ia masukkan ke dalam botol untuk memenuhi kebutuhan semut itu selama sebulan.


Sebulan berselang, raja Sulaiman mengunjungi semut yang ada dalam botol. Beliau dapati semut itu hanya memakan setengah dari gandum yang ia berikan. Raja Sulaiman lalu bertanya kepada semut, "Pernah kau katakan bahwa dalam sebulan engkau memerlukan makanan sebanyak satu biji gandum. Kini satu bulan telah berlalu namun mengapa hanya setengah gandum yang kau makan?"


Semut kecil menjawab pertanyaan sang raja, "Benar, aku biasa memakan 1 biji gandum yang Allah berikan dan aku habiskan itu selama 1 bulan. Engkau pun memberikan 1 biji gandum untukku habiskan dalam sebulan selama aku berada di botol ini. Aku tak mengerti apakah engkau akan melepaskan aku setelah ini atau terus mengurungku lagi di dalam botol? Karena engkau bukanlah Allah, meski engkau menjamin makananku setiap bulan, maka aku tidak bisa begitu percaya terhadap dirimu. Bila engkau masih tetap mengurungku di dalam botol ini, maka aku tak yakin engkau akan memperhatikan makananku seperti Allah menjaminnya. Sekalipun engkau adalah raja yang kaya, engkau tetaplah manusia yang punya banyak kekurangan....!"


Lewat dialog semut dan raja Sulaiman ini ada intisari yang bisa kita dapatkan; yaitu bahwa sejatinya makhluk hanya boleh bersandar kepada Allah saja. Bila ia berharap apalagi bergantung kepada sesama makhluk, maka Tuhan Yang Maha Pemurah akan enggan membantunya.

Dalam sebuah hadits dikatakan:


Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang tertimpa kekurangan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka kekurangannya tidak akan ditutupi. Tetapi siapa saja yang mengadukannya kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya rezeki (baik datangnya) segera atau lambat.”

(HR.Abu Daud dan Tirmidzi)

Ada lagi sebuah kisah yang hendak saya utarakan. Kisah ini berasal dari seorang sahabat yang hijrah ke agama Islam setelah sekian lamanya ia terlahir dalam sebuah keluarga Nasrani. Dialah Agus Herlambang, bukan nama asli. Sudah 4 tahun lebih dia bermukim di sebuah pesantren milik Kyai Ahmad di Tasikmalaya. Keteduhan Islam dan ketenangan pesantren memberi rasa kedamaian yang sudah lama ia cari.
Di sisi lain, masuknya Agus dalam agama Islam membuat semua keluarganya murka. Ia terusir dari keluarganya, dan setelah Agus pergi meninggalkan rumah, sang mama sering jatuh sakit mengharapkan Agus untuk kembali ke rumah. Namun hidup itu adalah pilihan. Apalagi bila pilihannya adalah antara Allah Sang Pencipta dan mamanya. Tentu Allah haruslah didahulukan atas segalanya!


Berulang kali mamanya Agus berharap ia kembali ke rumah. Bahkan hingga sang mama jatuh sakit. Kali itu di awal Ramadhan kira-kira 4 tahun yang lalu, seorang kakaknya menelpon dan memberitahukan bahwa mama sedang sekarat dan sering menyebut nama Agus.
Merasa tergugah, Agus pun pulang ke rumah. Sebentar saja ia bisa menjumpai mamanya, setelah itu nyawa mama pun meninggalkan badan. Semua kakak dan keluarga menuding Agus sebagai biang keladi kematian mama. Menanggapinya, Agus tak ambil pusing.


Namun pada malam dimana jasad mama sudah dikuburkan, semua kakaknya membuat makar atas dirinya. Kakak tertua tiba-tiba berkata, "Mumpung semua keluarga berkumpul di sini, maka ada baiknya bila semua harta warisan orang tua kita bagikan sekarang..." Mendengarnya Agus merasa risih. "Baru saja Mama dikuburkan tadi siang, kok sudah bagi-bagi warisan sekarang?!" gumam Agus. "Ini bagianmu.... ini bagianmu.... ini bagianmu.... dan ini bagianku!" Kakak tertua Agus membagikan harta warisan yang telah dihitung kepada keempat kakaknya selain Agus.


Saat harta warisan itu dibagikan, ia menunggu kapan namanya disebut mendapatkan giliran. Namun harta itu sudah habis dibagikan di antara keempat kakaknya, dan Agus tidak disebut namanya untuk mendapatkan bagian.
Ia baru sadar bahwa dirinya teraniaya oleh keempat kakaknya. Agus gusar dan berkata, "Mana bagianku, aku khan anak mama juga?!" Salah seorang kakaknya dengan ketus mengatakan, "Bukankah dalam agamamu (maksudnya adalah Islam), seorang muslim tidak boleh mewarisi sesuatu dari orang kafir?! Mama kan kafir menurut agamamu. Karenanya engkau tidak dapat jatah warisan dari harta mama!!!" Agus marah. Dia kesal mendengar komentar kakaknya itu. Dia tahu bahwa dirinya Islam, tapi dia belum pernah dengar aturan warisan seperti itu dalam Islam. Di kepalanya yang ada adalah dirinya terzalimi oleh kakak-kakaknya karena ia tidak mendapatkan harta warisan.


Malam itu juga Agus hendak pergi ke Tasikmalaya. Ia ingin kembali ke pesantren dan mengadukan kezaliman ini kepada gurunya, Kyai Ahmad. Pagi itu di awal Ramadhan, waktu setempat belum lagi menunjukkan pukul 7. Agus mempercepat langkahnya menuju rumah pak Kyai untuk melaporkan kegusaran hati. Ia ucapkan salam dan pak Kyai Ahmad pun membalasnya. Belum lagi ia mengutarakan perasaannya, pak Kyai Ahmad berujar kepadanya, "Sudah sarapan, Agus?" Mendengarnya Agus merasa heran, "Ini khan bulan Ramadhan, mengapa pak Kyai menawari aku makan?!" Namun sekilas ia merasa bahwa pak Kyai menduganya tidak berpuasa sebab telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Jakarta – Tasikmalaya. Sebab itu, pak Kyai menawarinya makan.


"Pergi sana ke dapur, mintalah makan kepada ummi!*" Di dapur makanan sudah disiapkan untuk Agus. Ia pun memakan sepiring makanan dengan lahap. Usai makan, Agus pergi menemui pak Kyai lagi di ruang depan.
Begitu melihat Agus datang, pak Kyai berkata, "Sudah makan, Agus...? Sana kembali lagi ke dapur dan tambah makanmu!" Agus menjawab, "Pak Kyai, saya sudah kenyang..." Mendapat jawaban itu suara pak Kyai meninggi, "Tambah makananmu...., Agus!"
Dengan berat hati Agus pun ke dapur lagi. Ia tambah makanannya sepiring lagi. Perutnya yang sudah kenyang menimbulkan rasa mual. Usai menyantap makanan dengan piring kedua, Agus pun mendatangi lagi sang Kyai. Anehnya, lagi-lagi pak Kyai menyuruhnya untuk menambah makan.


Agus berkata kepada pak Kyai, "Demi Allah pak Kyai, saya sudah tidak sanggup lagi untuk menambah makan!" Agus mengatakannya sambil memegang perutnya yang sudah membusung, sebagai bukti bahwa dirinya sudah kenyang.
Mendengar Agus tak mampu menyantap piring ketiga, dengan enteng Kyai Ahmad berujar, "Agus.... Agus, bila makan saja tidak sanggup menghabiskan tiga piring, lalu kenapa bersedih jika tidak kebagian harta waris! Perut kita cuma segini, gak perlu lebih. Sedikit asal cukup dan berkah lebih bagus daripada banyak tapi melalaikan!"
Mendengar kalimat hikmah yang meluncur dari pak Kyai, Agus pun urung menyampaikan permasalahannya. Sebab rupanya pak Kyai sudah memberinya pelajaran yang amat berharga untuk dirinya, yaitu senantiasa cukup akan anugerah yang Allah berikan untuk dirinya.


Dalam kecukupan terdapat kebahagiaan!


Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda,


“Bukanlah kekayaan itu diukur dari melimpahnya harta, tetapi yang disebut kekayaan (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa.”

(HR. Bukhari dan Muslim)



*Artikel ini pernah disampaikan dalam pengajian Majlis Al Kauny pada tanggal 26 Januari 2008


Perbandingan ukuran manusia, bumi, matahari dan alam semesta

  • Untuk sementara nilai bumi dibanding 4 planet berikut adalah yg terbesar

  • Untuk perbandingan ini bumi masih bisa kelihatan

  • Jika dibandingkan dengan matahari, ukuran bumi tidaklah ada apa-apanya

  • Waaah bumi dimana neh, untuk skala berikut bumi tidaklah kelihatan

  • Subhanallah No Comment untuk skala yg ini, matahari saja ukurannya cuma satu pixel. Lalu yang jadi pertanyaan "Bagaimana dengan ukuran Bumi..Bagaimana ukuran manusianya yg menempati bumi itu?" Patutkah kita berbesar kepala mengenai apa yang kita miliki (kekuasaan, harta benda, dll)? Bukankah semua itu milik Allah yg sifatnya tidaklah abadi. Anda dan apa-apa yang anda cap sebagai milik Anda sendiri suatu masa pasti akan musnah dan kembali kepada-Nya. Melihat kenyataan yang seperti ini masih perlukah diri ini menyombongkan dihadapan sesama manusia dan Sang Pencipta Alam Semesta?"


Sunday, September 14, 2008

Ramadhan Bulan Ibadah ("Marhaban Yaa Ramadhan")

Written by Abbas
Senin, 03 September 2007

Alhamdulillah, segala puji dan sanjungan hanya milik Allah semata. Saat ini umat Islam tengah beroleh nikmat yang agung dari-Nya, yaitu bersua kembali dengan bulan Ramadhan yang telah meninggalkannya setahun yang lewat. Alhamdulillah, tak henti-henti bibir ini memuji-Nya, memohon bimbingan dan petunjuk-Nya hingga diri ini tegak, sabar, dan berhasil memetik maghfirah, barakah, dan seluruh nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sediakan bagi hamba-Nya.

Menyambut Bulan Ramadhan

Umat Islam terbagi menjadi dua golongan dalam menyambut kedatangan Ramadhan :

1. Mereka yang menyambut dengan suka cita
Tak lain mereka adalah hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang faham dengan pemahaman yang bersih tentang syariat Allah, sehingga tatkala Ramadhan menjelang tibalah saat baginya untuk menaburkan benih amalan sebanyak-banyaknya dengan harapan kelak di akhirat ia akan menuai hasil yang berlipat. Hanya orang Mukmin saja yang mampu bersikap demikian. Mereka yakin apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al Qur'an dan apa yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam dalam hadits-haditsnya tentang keutamaan bulan Ramadhan. Keyakinan yang kokoh inilah yang memacu semangat mereka berlomba dengan saudaranya untuk mempersembahkan amal shalih sebanyak-banyaknya kepada Rabb-nya. Kaum Mukminin juga paham bahwa kelezatan dunia bersifat sementara, sehingga tatkala mereka harus berpisah dengannya, tidak menjadi murung dan bersedih serta malas-malasan dan putus asa. Mereka tahu bahwa kelezatan di akhirat adalah abadi dan hakiki.

2. Mereka yang menyambut Ramadhan dengan berat hati
Mereka adalah hamba dunia dan budak hawa nafsu. Mereka adalah manusia yang ragu akan kabar gembira dan ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . Mereka terpedaya dengan bisikan syaithan dan rayuan syahwat. Naudzubillahi min dzalik. Keadaan tersebut akan menjadikannya malas dan loyo beribadah. Puasa hanya berarti tidak makan, minum, dan jima' semata, tanpa memperhatikan aspek-aspek lainnya, berangkat shalat tarawih karena terpaksa dan malu kepada tetangga dan mereka melakukan perbuatan sia-sia lainnya.

Ingatlah wahai saudaraku!

Hidupmu di dunia hanya sementara, hidup yang abadi adalah di akhirat kelak. Jika engkau malas melakukan ketaatan, maka bekal apa yang engkau bawa menuju rumahmu yang abadi? Jika engkau berat hati dan terpaksa melakukan kebajikan, maka amal apa yang mampu menyelamatkan kamu dari siksa neraka? Pikirkanlah dengan hati lapang dan renungkan dengan hati yang jernih! Semoga Allah memberimu petunjuk.

Nasehat Bagi Keluarga Muslim Di Bulan Ramadhan

Masyarakat Islam terdiri dari kumpulan keluarga-keluarga Muslim. Maka untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang Islami harus dimulai dari pembentukan keluarga yang Islami, yaitu keluarga yang tegak di atas syariat Islam. Terwujudnya keluarga yang tegak di atas Islam memerlukan proses yang membutuhkan keuletan, keistiqamahan, dan kesabaran dari semua pihak, baik dari ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya. Bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk merintis dan memulai proses menuju keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Karena pada bulan ini musuh bebuyutan manusia (yakni syaithan) dipersempit geraknya, dibelenggu oleh Allah Ta'ala :

“Jika datang bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka, dan syaithan-syaithan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
  • Tarbiyah Ilmiyah

Ingatlah wahai para orang tua akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim : 6)
Ayat ini merupakan landasan untuk mengajari dan mendidik anggota keluarga, menyuruh mereka kepada ketaatan, dan amar ma'ruf nahi munkar. Kepala rumah tangga (ayah atau suami) mempunyai kewajiban untuk mendidik dan membimbing istri dan anak-anaknya menuju pemahaman Islam yang benar. Kepala rumah tangga harus dapat mencambuk semangat keluarganya bila didapatinya mereka malas dalam melakukan ibadah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Janganlah seorang kepala rumah tangga membiarkan dirinya menjadi dayyuts, laki-laki banci yang tidak berani menegur anak istri ketika terjatuh dalam lumpur maksiat. Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam telah bersabda :


“Tiga golongan manusia, tidak akan masuk Surga dan tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat yaitu anak yang durhaka kepada orang tuanya, wanita yang berlagak seperti laki-laki dan menyerupainya, dan dayyuts.” (HR. Al Hakim, ia berkata sanadnya shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani, lihat Hijab Al Mar'ah Al Muslimah halaman 67)


Wahai saudaraku!
Hendaklah engkau pandai-pandai dalam memilih waktu untuk memberikan pendidikan kepada keluargamu. Dalam bulan Ramadhan ini pendidikan bisa dilakukan setelah makan sahur atau buka puasa atau waktu-waktu yang lain. Yang paling awal yang harus kau ajarkan kepada keluargamu adalah :

  • Ma'rifatullah (pengenalan yang benar terhadap Allah) mulai dari tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, sampai tauhid Asma' wa Shifat.
  • Ma'rifah Ar Rasul (pengenalan terhadap Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam ) yaitu meliputi seluruh aspek yang diteladankan oleh beliau Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam (tidak hanya tahu hari dan tanggal lahirnya, nama ayah dan ibunya, serta kelahirannya semata).
  • Ma'rifah Ad Din Al Islam (pengenalan terhadap agama Islam) beserta dalil-dalilnya.
    Ketiga perkara tersebut merupakan tonggak yang akan menopang tegaknya pendirian kaum Muslimin di tengah-tengah derasnya arus syubhat dan syahwat.

  • Tarbiyah Amaliyah


Ada beberapa amalan shalih yang menjanjikan pahala besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala pada bulan Ramadhan di antaranya :
Puasa Ramadhan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Al Baqarah : 183)
Hendaklah para orang tua memberi pengertian kepada anak-anaknya bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah wajib dan berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya tanpa udzur syar'i. Untuk itu hendaklah meniatkan puasanya hanya semata-mata mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam bersabda :


“Barangsiapa puasa Ramadhan dengan iman dan benar-benar mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Wahai saudaraku!
Ada beberapa hal yang dapat engkau biasakan guna mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sekaligus sebagai upaya melatih keluargamu di bulan Ramadhan ini :
Mendahulukan berbuka
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadlus Shalihin membawakan beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam yang mengisyaratkan disunnahkannya mendahulukan berbuka puasa, di antaranya :


“Selalu manusia itu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sebelum berbuka ingatkanlah keluargamu untuk berdoa sebagaimana yang dicontohkan teladan kita Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam :
[ Dzahabadh Dhama'u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insya Allah ]


“Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, Insya Allah.” (HR. Abu Dawud, lihat Hisnul Muslim nomor 168, Shahihul Jami' 4/209)


Tegurlah mereka jika terlalu kenyang, karena mereka belum menegakkan shalat maghrib, kekenyangan dalam makan akan mengganggu kekhusyu'an dalam shalat.


Mengakhirkan sahur


Terjadi pada sebagian keluarga Muslim kebiasaan-kebiasaan yang berkenaan dengan makan sahur ini. Sebagian mereka tidak melakukannya dengan sengaja, sebagian lagi dikarenakan rasa malas bangun pada akhir malam, maka mereka makan sahur sebelum pergi tidur atau di tengah malam. Dua kebiasaan tersebut menyelisihi tuntunan Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam , maka menjadi tanggung jawabmu wahai para kepala keluarga untuk mengingatkan keluargamu dan membiasakannya dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam . Perhatikan sabda beliau berikut ini sebagai hujah bagimu untuk membimbing keluargamu.


“Perbedaan antara puasa kami dan puasa ahli kitab yaitu makan sahur.” (HR. Muslim 1096)
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat barakah.” (HR. Muslim 1095)

Dua hadits di atas sebagai bantahan atas mereka yang meninggalkannya, sedang sabda Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu 'anhu berkenaan dengan sunnahnya mengakhirkan sahur adalah :
“Kami sahur bersama Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam, kemudian kami bangkit untuk shalat. Aku katakan kepadanya : ‘Berapa lama antara keduanya?' Ia menjawab : ‘(Kira-kira orang membaca) lima puluh ayat'.” (HR. Muslim 1097)


Tidak boros dalam makan dan minum


Berlebih-lebihan adalah perkara yang mendatangkan kebencian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala , karena itu hendaklah para ibu rumah tangga bersikap sederhana, meskipun di siang hari tidak ada anggaran belanja yang dikeluarkan, namun janganlah menyusun anggaran belanja yang membengkak di sore hari.


Qiyamul Lail (Shalat Tarawih)


Qiyamul lail merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat berkesan dan membawa dampak positif bagi yang membiasakannya. Di bulan Ramadhan, shalat malam (yang kita kenal dengan shalat tarawih) merupakan amalan yang sangat dianjurkan, sampai kepada kita sabda Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam :


“Barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan seorang ayah (suami) sangat penting bagi anak dan istrinya untuk membiasakan amalan ini. Di mana ia harus menjadi teladan di tengah-tengah keluarganya.
Merupakan pemandangan yang sering kita lihat di bulan Ramadhan yaitu ayah, ibu, dan anak-anaknya berangkat bersama menuju masjid melakukan shalat.

  • Ada beberapa hal yang harus engkau perhatikan wahai para pembina keluarga!
    Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah bukan wajib, maka janganlah berkeyakinan wajibnya shalat tarawih, sehingga tatkala kalian terluput darinya penyesalan kalian lebih dari bila kalian terluput dari shalat fardlu yang lima . Karena itu ajari dan pahamkanlah keluargamu tentang masalah ini, bahwa shalat lima waktu adalah wajib sedang shalat tarawih adalah sunnah.
  • Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan afdhalnya shalat tarawih berjamaah bersama imam di masjid, maka bimbinglah keluargamu untuk tunduk kepada syariat. Akan tetapi perlu diingatkan kepada para ibu dan remaja putri bahwa shalatnya di rumahnya lebih baik baginya daripada shalatnya di masjid kaumnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam :
    “ … shalatmu di bilikmu lebih baik dari shalatmu di rumahmu, shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalatmu di masjidku (masjid Nabawi).” (HR. Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Namun jika mereka ingin tetap shalat berjamaah di masjid, maka nasehatkan kepada mereka adab-adabnya, di antaranya :

  • Keluar bersama mahramnya, demikian pula ketika kembali, maka haram bagi wanita keluar disertai laki-laki asing.
  • Tidak tabaruj, berhias ala jahiliyah, menguraikan rambutnya dengan menenteng mukenanya, akan tetapi wajib baginya berbusana sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
  • Tidak memakai minyak wangi.
  • Segera pulang setelah shalat selesai, tidak duduk-duduk dan ngobrol di dalam masjid, atau jalan-jalan dengan bergerombolan. Hal ini adalah terlarang karena akan menimbulkan fitnah.
  • Meskipun shalat malam ini hukumnya sunnah, namun tetaplah engkau memberikan semangat kepada istri dan anakmu untuk melakukannya, dikarenakan keutamaannya yang besar di sisi Allah.
    “Seutama-utama shalat setelah shalat fardlu adalah shalat malam.” (HR. Muslim 1163)
  • Biasakanlah dirimu dan keluargamu untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala baik di dalam shalat malam atau sesudahnya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkan doa dan permintaan hamba-Nya. Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Rabb kami Yang Maha Agung dan Tinggi turun di setiap malam ke langit dunia, ketika malam tersisa sepertiga yang akhir. Kemudian Dia berfirman : ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku pasti akan Ku-kabulkan, barangsiapa meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya, barangsiapa memohon ampunan-Ku pasti Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari nomor 7494 dan Muslim nomor 758)


Tilawatul Qur'an dan Dzikrullah


Amal shalih lainnya sebagai cahaya penerang di setiap rumah keluarga Muslim adalah membaca Al Qur'an dan berdzikir kepada Allah, dua perkara yang ringan di bibir tetapi amat berat timbangannya kelak pada Yaumul Mizan.
Berkaitan dengan membaca Al Qur'an ini, Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Bacalah Al Qur'an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi ahlinya.” (HR. Muslim nomor 804)
Kesempatan emas bagi kalian, wahai para ibu! Yaitu engkau ajarkan Kalamullah ini kepada anak-anakmu di sela-sela kesibukanmu, niscaya engkau akan menjadi manusia yang terbaik dengan ketekunan dan kesabaranmu membimbing anak-anakmu membaca dan menghapal ayat-ayat-Nya. Bergembiralah dengan sabda Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam berikut ini :
“Sebaik-baik kalian ialah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari nomor 5027, Abu Dawud dalam Sunan -nya nomor 1452 dan Tirmidzi nomor 2909)
Selain engkau ajarkan Al Qur'an kepada anak-anakmu, maka tak kalah pentingnya adalah engkau biasakan lidah mereka selalu basah dengan dzikrullah untuk menepis kebiasaan-kebiasaan jelek yang beredar di sekitarmu. Ingatkan dan bacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam, di antaranya :
“ … laki-laki dan wanita yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)
“ … dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kalian beruntung.” (Al Jumu'ah : 10)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan keutamaan dzikrullah. Adapun dari sabda Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam di antaranya :
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : ‘Aku bersama hamba-Ku selama dia mengingat Aku, dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepada-Ku.' ” (HR. Ibnu Majah nomor 3792 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah nomor 3792)
“Tidaklah suatu kaum duduk untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan mereka dinaungi oleh para malaikat dan diliputi oleh rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat-Nya.” (HR. Muslim nomor 2700)
Cukuplah kiranya dua hadits ini sebagai landasan bagimu untuk tetap membasahi bibirmu dengan dzikrullah dan sebagai pemacu bagimu untuk tekun dan telaten membimbing anak-anakmu untuk senantiasa berdzikir kepada Allah.


Istighfar dan Taubat


Istighfar adalah memohon ampunan yakni penjagaan dari jeleknya dosa dan menutupinya (dari dosa-dosa tersebut).
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk istighfar sekaligus memuji hamba yang mau memohon ampunan kepada-Nya.
“Dan mintalah kalian ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Muzammil : 20)
“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.” (Hud : 3)
Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah dan istighfarlah kepada-Nya, maka sungguh aku bertaubat seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim nomor 2702)
Pintu taubat tetap terbuka hingga matahari terbit dari barat.
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim nomor 2703)
Sedang orang yang tidak mau taubat merekalah orang-orang yang dhalim.
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.” (Al Hujurat : 11)


Shadaqah


Jadikanlah bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak shadaqah dan infaq fi sabilillah, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai hamba-Nya yang dermawan, murah hati, dan selalu terbuka tangannya untuk memberi. Namun hendaknya engkau perhatikan wahai kepala keluarga bahwa syarat diterimanya shadaqah adalah dari usaha yang halal!


“Sesungguhnya Allah itu Maha Bagus, Allah tidak akan menerima kecuali yang bagus (halal).”

(HR. Muslim nomor 1015)


Maka hendaknya kalian mampu menahan diri dari usaha-usaha yang haram, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyelamatkan diri kalian dari jeleknya dosa. Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam bersabda :


“Dan shadaqah itu bisa memadamkan kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api.”

(HR. Tirmidzi nomor 2616, ia berkata hadits hasan shahih dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi nomor 2110)


Menyambut Lailatul Qadar


Di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar (lihat pembahasannya dalam rubrik “Kajian Kali Ini” ).
Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam juga menganjurkan kepada umatnya agar memperbanyak amal-amal kebaikan pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu 'anhuma mengabarkan :


“Adalah Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam, bila masuk malam-malam sepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau) menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya (yakni tidak menggauli istri-istrinya, pent.).” (HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup


Wahai saudaraku! Semoga Allah merahmatimu. Itulah beberapa amal shalih yang hendaknya kita hidupkan di rumah-rumah kita, kita jadikan amalan tersebut sebagai aktifitas seluruh anggota keluarga kita, dan mudah-mudahan ini merupakan langkah awal yang mendapat keridlaan Allah untuk melangkah selanjutnya. Sebagai penutup risalah ini akan disebutkan beberapa hal sebagai peringatan bagi kita semua kaum Muslimin yang mendambakan ridla dan Surga Allah Subhanahu wa Ta'ala.

  1. Jangan bermalas-malasan di bulan mulia ini, jangan memenuhi hari dengan tidur mendengkur sepanjang siang hingga shalat jamaah terlewatkan, membaca Al Qur'an terlupakan. Kalau ada yang berdalih dengan hadits :
    “Orang yang berpuasa tetap di dalam ibadah meskipun dia tidur di atas tempat tidurnya.” (HR. Ad Dailami)
    Ketahuilah! Bahwa hadits tersebut adalah dlaif bahkan maudlu' (palsu) dikarenakan adanya rawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Suhail. Dia adalah pemalsu hadits (lihat kitab Silsilah Ahadits Dlaif wal Maudlu'ah nomor 653).
  2. Untuk para ibu atau remaja putri, dibolehkan mencicipi makanan untuk mengetahui asin atau manisnya, dengan syarat tidak menelannya meskipun hanya sedikit. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma :
    “Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu selama tidak masuk ke kerongkongannya, sedang dia dalam keadaan puasa.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47 dan Baihaqi 4/261 dengan sanad hasan. Lihat Shifat Shaum Nabi Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam halaman 55)
  3. Bagi para suami, boleh mencium istrinya dan bersenang-senang dengannya dengan syarat kuat menahan syahwatnya (tidak sampai bersetubuh dengan istrinya). Berkata Aisyah radhiallahu 'anha :
    “Adakalanya Nabi Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam mencium dan bersenang-senang dengan istrinya sedang beliau berpuasa, dan beliau sangat kuat menahan syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Al Lu'lu' wal Marjan nomor 676)
    Jika engkau dapat berbuat seperti Rasulullah Shallallahu ' Alaihi Wa Sallam maka lakukanlah, namun jika engkau termasuk laki-laki yang mudah bangkit syahwatnya maka tinggalkanlah perbuatan tersebut untuk sementara, dan bisa kau lakukan di malam harinya. Hati-hatilah dari perkara ini, karena jika engkau terpeleset sungguh besar akibatnya yaitu wajib bagimu membayar kafarah yang telah ditetapkan oleh syariat dan wajib mengqadla' puasa.
  4. Kuperingatkan bagimu wahai para orang tua, yaitu awasi kegiatan anak-anakmu di bulan Ramadhan. Jika mereka melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian dari muda-mudi Islam saat ini, seperti berjalan-jalan selepas shalat Shubuh, atau ngobrol di masjid dengan lawan jenisnya secara berkelompok-kelompok atau bahkan hanya berdua atau kebiasaan-kebiasaan lainnya yang melanggar syariat, maka wajib bagimu untuk menegurnya, memperingatkannya, dan mengancamnya dengan ancaman adzab yang dahsyat di sisi Rabb-nya. Berilah mereka kesibukan-kesibukan yang mendidiknya, seperti menghapal ayat-ayat Al Qur'an atau hadits-hadits Nabi atau perbuatan khair lainnya yang akan mendatangkan manfaat dan menolak madlarat. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menolongmu dan kita semua menuju ketaatan kepada-Nya.


Mudah-mudahan tulisan ini menjadi amal shalih yang ikhlas hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan mendatangkan manfaat bagi kita semuanya. Amin Ya Mujibas Sailin.


Wallahu A'lam Bis Shawab .


Tips Sehat Segar Puasa

Tips tip agar selalu segar bugar selama puasa berikut ini bisa membantu anda terutama jika anda masih bekerja selama berpuasa. Agar bisa menghindari kebiasaan tidak sehat, maka butuh pengaturan makan dan minum pada waktu sahur atau pada saat berbuka puasa.

Selama puasa asupan makanan penghasil enersi utama seperti karbo hidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein yang masuk ke tubuh kita tidak sebanyak pada hari-hari tidak puasa. Berikut ini adalah beberapa tip khusus saat kita sahur dan saat kita berbuka puasa agar tubuh kita tetap sehat dan segar selama bulan puasa sehingga terhindar dari kebiasaan yang kurang sehat:

Pada Saat kita Sahur:

Konsumsilah makanan bergisi baik ketika sahur maupun ketika anda berbuka puasa. Meskipun menu sederhana, tetapi yang penting berisi lima unsur gisi komplit seperti lemak, protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral.
Agar bisa menahan rasa lapar, mohon diperbanyak mengkonsumsi jenis makanan yang berserat banyak terdapat dalam sayur sayuran dan buah. Tubuh anda membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna makanan yang banyak mengandung serat.

Agar diupayakan bisa mencegah dehidrasi tubuh dengan minum air putih sebanyak banyaknya pada malam hari. Hal ini sangat penting dilakukan, karena pada waktu siang hari kegiatan dan aktivitas anda cenderung banyak mengeluarkan keringat baik di luar ruangan atau ruang yang ber-AC.Selain memperbanyak makan makanan yang berserat dan makanan yang banyak mengandung protein, sebaiknya Anda juga menyediakan macam makanan yang mengandung vitamin dan mineral serta makanan tambahan agar supaya tubuh tetap segar bugar sepanjang hari saat puasa.Beberapa Vitamin yang penting dikonsumsi setiap hari saat puasa adalah vitamin A, B, dan C. Namun kalau Anda sudah makan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, kacang-kacangan, maka tidak perlu khawatir kekurangan vitamin tersebut.
Bagi mereka pengindap penderita sakit lambung, makanan yang sebaiknya dihindari adalah ketan, mie, daging berlemak, ikan dan daging yang diawetkan, sayuran mentah, sayuran berserat, minuman yang mengandung soda, dan bumbu yang tajam (cuka, cabai, asam). Jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gas yang berpengaruh meningkatkan produksi asam lambung.Setelah selesai makan sahur jangan langsung tidur. Tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan yang baru dimakan.

Saat Ketika anda Berbuka:

Pada saat berbuka, mohon awali buka puasa Anda dengan makanan atau minuman yang hangat dan manis seperti setup, kolak, ataupun minum minuman manis lainnya. Ini penting untuk menormalkan kadar gula dalam tubuh kita. Tapi perlu ingat, jangan mengkonsumsi minuman yang ber-soda, karena dapat menimbulkan masalah akibat buruk bagi perut Anda.
Jangan langsung minum es atau air dingin, sebaliknya biasakanlah berbuka dengan minuman yang hangat. Perut yang kosong bisa menjadi kembung, bila Anda langsung berbuka puasa dengan air dingin, karena asam lambung dalam tubuh kita akan terbentuk semakin banyak.Kemudian coba beristirahatlah kurang lebih 1 jam sebelum menyantap makanan berbuka yang telah dihidangkan. Tujuannya adalah untuk memberikan keseimbangan terlebih dahulu pada pencernaan anda. Ingat, jangan mengkonsumsi makanan yang berlebihan dan makanan asinan.
Berbuka puasa hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru agar lambung tidak “kaget”. Dengan demikian kerja lambung tidak terlampau berat karena lambung membutuhkan ruangan kosong untuk mencerna makanan. Untuk meringankan kerja pencernaan, kunyah makanan dengan baik.
Bagi mereka yang berat badannya melebihi berat badan ideal, sebaiknya selama berpuasa pun tetap menghindari makanan yang tinggi kolesterolnya, misalnya lemak hewan, margarin, mentega. Selain itu, sebaiknya Anda menghindari makanan yang manis-manis, seperti dodol, sirup, cokelat, kue tar, es krim. Selain lebih banyak mengkonsumsi sayur, buah, dan daging tanpa lemak, pengolahan makanannya pun sebaiknya jangan digoreng.”
Sedang bagi mereka yang terlalu kurus, selama berpuasa sebaiknya menambah porsi susunya dan menghindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar (daun singkong, daun pepaya).
Bagi mereka yang berusia lanjut, aturlah pola makan saat berbuka puasa juga secara bertahap. Makanlah jumlah yang lebih sedikit, namun dilakukan beberapa kali.Setelah berbuka puasa mohon jangan langsung tidur. Tubuh kita membutuhkan waktu untuk mencerna makanan yang baru saja dimakan.

Sumber:
http://Gizi.net

“Selamat menunaikan ibadah puasa, Semoga tahan sampai 30 Hari”

Thursday, September 11, 2008

Melepas Jerat Hidup dengan Takwa

Umat Islam telah meraih prestasi besar dalam ramadhan. Latihan iman dan ujian ketakwaan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang mukmin. Puasa yang ditunaikan selama sebulan penuh dengan segala persyaratan dan konsekuensinya akan menghasilkan iman yang teruji dan ketakwaan yang terlatih. Tiga puluh hari menjalin hubungan akrab dengan Allah Swt. melalui beraneka ragam amal shalih merupakan waktu yang cukup untuk menyadarkan jiwa dan menundukkan hati, sehingga limpahan rahmat dan kasih sayang Allah Swt. tercurah.
Buah ketakwaan akan turun dengan segala keberkahan yang menguntungkan dan menenteramkan. Namun kondisi yang masih memperihatinkan, membuat mukmin bertanya-tanya, sudahkah ketakwaan sejati ‘tersibghah’ (tercelupkan) ke dalam tubuh umat, hingga membebaskan mereka dari segala jeratan hidup ?
Beberapa Buah Ketakwaan Sejati
Ketakwaan sejati menjamin banyak buah yang dapat dipetik oleh orang yang membekali dirinya dengannya. Bahkan setiap orang yang ingin sukses, harus memiliki bekal ketakwaan yang sejati, dan takwa itu merupakan bekal yang terbaik (QS. Al-Baqoroh: 197). Berikut ini adalah beberapa buah takwa;
  • Jaminan solusi dari segala problema dan pintu rizki yang melimpah dan tak terduga. Allah Swt. berfirman; “barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti memberinya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka”. (QS. At-Talaq: 2-3)
  • Kemudahan dalam segala urusan. Allah Swt. berfirman; “barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti memberikan kemudahan dalam segala urusannya”. (QS. At-Talaq: 4)
  • Jaminan pertolongan, kebersamaan dan dukungan dari Allah Swt.Allah Swt. berfirman; “dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqoroh : 194)
  • Jaminan keberkahan dari langit dan bumi.Allah Swt. berfirman; “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka pintu segala keberkahan dari langit dan bumi”. (QS. Al-A’raf: 96)
  • Jaminan keamanan dan penjagaan dari segala tipu muslihat dan kejahatan musuh. Allah Swt. berfirman; “Jika kalian bersabar dan bertakwa maka makar dan tipu muslihat mereka tidak akan membahayakan kalian sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi atas segala yang mereka kerjakan”. (QS. Ali Imron: 120)
  • Jaminan perlindungan Allah Swt. bagi keturunan dan anak cucu. Allah Swt. berfirman; “dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka takut akan (kesejahteraan mereka). Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang benar." (QS. An-nisa’: 9)
  • Penyebab diterimanya amal perbuatan, yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Swt. berfirman; “sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah: 27)
  • Jaminan selamat dan lindungan dari azab dunia.Allah Swt. berfirman; “dan Kami Menyelamatkan orang-orang yang beriman lagi bertakwa”. (QS. Fussilat : 18)
  • Penyebab terhapusnya dosa-dosa kecil dan memperbesar pahala.Allah Swt. berfirman; “barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti menghapus dosa-dosanya dan memperbesar pahala baginya”. (QS. At-Talaq : 5)
  • Warisan surga dan derajat yang tinggi di dalamnya.Allah Swt. berfirman; “itulah surga yang diwariskan bagi hamba-hamba Kami yang bertakwa”. (QS. Maryam: 63)
  • Jaminan persahabatan sejati dan kekal. Allah Swt. berfirman; “para kekasih pada hari itu (hari kiamat), antara sesama mereka berubah menjadi musuh, kecuali orang-orang yang bertakwa (yang tetap terjalin hubungan kasihnya”. (QS. Az-Zukhruf: 67)

Demikianlah beberapa buah takwa, tidakkah anda ingin memetiknya?

sumber : Ibnu Kuhafah, Lc http://www.ikadi.org


Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

Oleh: Herry Mardian
SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengarkalimat `Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata :
"Adalah Rasulullah berbuka denganRutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab,maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air."
(Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata :
"Apabila berbuka salah satu kamu, makahendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan `yang manis-manis' ? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complexcarbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate). Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidratsederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa`disunnahkan' minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis. Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhansudah berupa `manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal. Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan? Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun.
Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula(karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan. Mari kita bicara `indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin. Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah.
Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka. Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya), sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah `ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit.. Itu jawaban beliau.
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah `manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya. Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah. Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut,pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa. Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti `buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah 'sunnah', maka puasa bukannya malah menyehatkan kita.
Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits diatas, maka efeknya `rajin puasa = rajin berbuka dengan gula. 'Ingin `Kurus' Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh untuk menabung lemak karena `dilaparkan' . Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih besar. Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah. Respon insulin tubuh meningkat bila:
  • Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita diIndonesia : lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.
  • Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.
  • Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali makan.Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus (baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau sepertiga porsi biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi. Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk energi. Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan `kekencangannya' dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal. Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut. Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil. Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question.

Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan `balas dendam habis-habisan', ya justru respon insulin kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak. Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah. Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas.

Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka. Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan), makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa. Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulinrendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan , kenapa para pemain tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering terlihat `ngemil pisang' di pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapinggak ingin badannya gembul berlemak. Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi responinsulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung. Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, sayuran.

Ini yang paling dicari para praktisi fitness. Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk menabung lemak. Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- airproporsional.

Dan tentu tidak untuk `balas dendam' karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu `makan sekenyang-kenyangnya'. Belajar sabar. Kembali ke topik. Jadi, saya kira, "berbukalah dengan yang manis-manis" itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, `berbukalah dengan yang manis' itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu. Semoga tidak termakan waham umum `berbukalah dengan yang manis'. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah:

"Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang." Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong."

"Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang," kataRasulullah.

"Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya."

(HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan IbnuHibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma'di Kasib)

Semoga bermanfaat

Wassalaamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Wednesday, September 10, 2008

Sudah benarkah Puasa Kita ?

Rasulullah SAW bersabda :
"Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil."
(Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)
"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat."
(Hadits Riwayat Al-Azdiy)
"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah S.W.T tidak berhajat kepada puasanya."
(Hadits Riwayat Bukhari)
“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.”
(Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar."
(Hadits Riwayat Turmudzi)
Imam Al-Ghazali berkata :
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa."
(Ihya' Ulumiddin)
Para Ulama berkata:
"Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa."
"Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain."
(Ihya' Ulumiddin)
Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya."
(Hadits Riwayat Al-Kharaithy)
Sudahkah kita menjaga puasa kita ?
(Sumber : Edi S. Kurniawan, Muhammad Haryadi, e-mail : Riyadi_albatawy@yahoo.co.id)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA
Oleh : H. Sunaryo A.Y.
Shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar setinggi satu tombak yaitu antara pukul 07.00 pagi sampai masuk waktu Dzuhur, ( sekitar pukul 11.00 siang ).
Adapun dalil Shalat Sunnat Dhuha adalah sabda Rosulullah SAW dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai berikut :
  • Bersabda Rosulullah SAW :
“Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan di ampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.“
( HR Tirmidzi )
  • Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yang suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT.“
( HR Thabrani )
  • Abu Hurairah ra pernah berkata :
“Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga ) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.”
( HR Bukhari dan Muslim )
  • Dari Mu’im bin Hammar, bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlah empat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau di akhir siang itu”.
( HR Ahmad dan Abu Daud )
  • Dari Aisyah ra, ia berkata :
“Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat Dhuha 4 ( empat ) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa yang dikehendaki Allah SWT.”
(HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )
  • Dari Ummu Hani diceritakan,

"Sesungguhnya ia pernah datang kepada Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 ( delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha."

( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :
  • Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid ( puji ) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruh kepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itu sedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah mengerjakan dua rakaat Dhuha.“
( HR Muslim dan Abu Dzar )
  • Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :
“Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ? Rosulullah SAW menjawab : “ Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi dari semua itu“
( HR Ahmad dan Abu Daud )
Saudaraku, sesama Muslim.
Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan ) Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ? Hayo, saudaraku, jangan ragu dan bimbang lagi, mari dengan ikhlas kita mengerjakan Shalat Sunnat Dhuha.
Cara mengerjakan Shalat Dhuha.

1. Niat Shalat Dhuha

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah

a. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.

b. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha

3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :

“ Ya Allah, ya Tuhanku, bahwa kami waktu Dhuha itu milik Engkau dan kebajikan ( kemewahan ) itu milik Engkau, dan keindahan itu milik Engkau dan kekuatan itu milik Engkau dan kekuasaan itu milik Engkau dan pemeliharaan itu milik Engkau. Ya Allah, Tuhanku, jika keadaan rezekiku di langit, maka turunkanlah dan jika adanya didalam bumi maka keluarkanlah dan jika adanya didalam air atau dilaut maka keluarkanlah ia dan jika ia lambat, percepatlah dan jika ia sulit, gampangkanlah dan jika ia haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah ia dan jika sedikit, perbanyaklah ia padaku dan jika banyak, berkahilah ia bagiku dan sampaikanlah dimana saja aku berada. Janganlah Engkau pindahkan aku ke tempat itu, dan jadikanlah tanganku diatasnya, untuk menjadi pemberi dan janganlah tanganku dijadikan dibawah untuk jadi tukang minta. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan hak ( bekal ) Dhuha Engkau, kebagusan Engkau, keindahan Engkau, kekuatan Engkau, kekuasaan Engkau dan pemeliharaan Engkau. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Engkau. Berilah aku apa yang Engkau engkau kepada hamba-hamba Engkau yang soleh. Dan sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta para Sahabatnya. Semoga mereka mendapat keselamatan dan segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam.”
Saudaraku, kerjakanlah Shalat Sunnat Dhuha setiap pagi, paling sedikit 2 ( dua ) rakaat atau 4 ( empat ) rakaat atau 6 ( Enam ) rakaat dan paling banyak 8 ( delapan ) rakaat.
Bahan-bahan (materi) dikutip dari Buku “FIQIH” Oleh :
Drs. H. Moh Rifai, Untuk Madrasah Aliyah. Kurikulum 1984, Edisi 1991.
Penerbit “Wicaksana “ Semarang, buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” Oleh : Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari dan Buku “KUMPULAN SHALAT SUNNAT” Oleh : A. Aminudin Pandeglang Banten

Tuesday, September 9, 2008

KHUSYUK DALAM SHOLAT (Tazkiyatun Nafs)



Shalat, kata Sa'id Hawwa, adalah sarana terbesar dalam tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa). Pada waktu yang sama merupakan bukti dan ukuran dalam tazkiyah. Shalat adalah sarana dan sekaligus tujuan. Ia mempertajam makna ubudiyah, tauhid, dan syukur.Shalat adalah zikir, gerakan berdiri, ruku, sujud, dan duduk. Penegakannya dapat memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada Allah, di samping merupakan pengakuan terhadap rubbubiyah dan hak pengaturan. Penegakannya secara sempurna juga akan dapat memusnahkan bibit-bibit ujub dan ghurur, bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian.


"Sesungguhnya shalat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran."
(Al-Ankabut 29).


Shalat akan berfungsi sedemikian rupa apabila ditegakkan dengan semua rukun, syarat, dan sunahnya. Secara lahir, kita menunaikannya secara sempurna dengan anggota badan. Secara batin, kita khusyuk dalam melaksanakannya. Khusyuk itulah yang menjadikan shalat punya peran yang lebih besar dalam thahhir (penyucian), peran yang lebih besar dalam tahaqquq dan takhalluq (merealisasikan nilai-nilai dan sifat-sifat yang mulia). Tazkiyatin nafs berkisar seputar hal ini.


Amalan shalat yang bersifat lahiriah, kita melihat, masih dilaksanakan dengan baik oleh orang Muslim yang hidup di lingkungan Islam. Tetapi, apakah kita khusyuk melaksanakannya, masih menjadi tanda tanya besar.


Nabi saw. bersabda,

"Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah kekhusyukan."

(HR Thabrani).


Padahal, khusyuk merupakan tanda pertama orang-orang beruntung (Al-Mu'minun 1-2). Orang-orang khusyuk adalah orang-orang yang berhak mendapat kabar gembira dari Allah SWT. (Al-Hajj:34-35).

Demikian pentingnya kedudukan khusyuk, hingga ketidakberadaannya berarti rusaknya hati dan keadaan. Baik dan rusaknya hati tergantung kepada ada dan tidaknya khusyuk ini. Sesungguhnya khusyuk merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati. Jika khusyuk telah sirna berarti hati telah rusak. Bila khusyuk tidak ada berarti hati telah didominasi berbagai penyakit yang berbahaya dan keadaan yang buruk, seperti cinta dunia dan persaingan untuk mendapatkannya. Bila hati telah didominasi berbagai penyakit, maka kecenderungan kepada akhirat akan hilang. Bila hati telah sakit maka sumber-sumber kebaikan bagi kaum Muslimin pun hilang. Cinta dunia menimbulkan persaingan untuk mendapatkannya, sedangkan persaingan terhadap dunia tidak layak menjadi landasan tegaknya urusan dunia dan agama.Hilangnya khusyuk pertanda hilangnya kehidupan. Dia sulit menjadi penerima nasihat dan didominasi oleh hawa nafsu.


Bayangkan, tatkala hawa nafsu mendominasi hati, segala nasihat dan peringatan tak lagi bermanfaat, maka berbagai syahwat pun merajalela. Dan terjadilah perebutan kedudukan, kekuasaan, harta, dan nafsu syahwat. Bila hal-hal ini mendominasi kehidupan, maka tidak akan terwujud kebaikan dunia maupun agama. Khusyuk adalah ilmu sebagaimana ditegaskan hadis Nabi Saw. Ilmu ini tidak banyak yang mengetahuinya. Bila Anda telah menemukan orang khusyuk yang bisa mengantarkan Anda kepadanya. maka berpegang teguhlah kepadanya. Orang berilmu itulah tanda ulama akhirat.


Sesungguhnya ilmu khusyuk berkaitan dengan ilmu penyucian hati dari berbagai penyakit dan upaya merealisasikan kesehatan. Masalah ini merupakan tema yang amat luas sehingga para ulama akhirat memulainya dengan mengajarkan zikir dan hikmah kepada orang yang berjalan menuju Allah sampai hatinya hidup. Bila hati telah hidup berarti mereka telah membersihkan dari berbagai sifat yang tercela dan mengantarkannya kepada sifat-sifat terpuji. Di sinilah perlunya membiasakan hati khusyuk melalui kehadiran bersama Allah dan merenungkan berbagai nilai kehidupan.


Resep Al-Ghazali


Khusyuk dalam shalat merupakan ukuran dan tanda kekhusyukan hati. Bagaimana khusyuk dihadirkan? Al-Ghazali menawarkan resep berikut. Lahiriah perintah, kata Al-Ghazali, adalah wajib, sedangkan lalai adalah lawan ingat. Yang lalai dalam semua shalatnya, bagaimana mungkin dia bisa mendirikan shalat untuk mengingat-Nya? Kehadiran hati adalah ruh shalat. Minimum saat mulai takbiratul ihram. Kurang dari ini adalah kebinasaan. Semakin bertambah kehadiran hati, semakin bertambah pula ruh tersebut ada dalam bagian-bagian shalat. Berapa banyak orang hidup tapi tidak punya daya gerak hingga seperti mayit. Demikian pula orang yang lalai dalam seluruh pelaksanan shalat kecuali pada waktu takbiratul ihram. Seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali.


Ketahuilah, kata Al-Ghazali, makna batin memiliki banyak ungkapan tetapi seluruhnya terangkum dalam enam kalimat. Yaitu: kehadiran hati, tafahhum, takzim, haibah, raja' dan haya'. Kehadiran hati ialah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak perlu hingga dia senantiasa sadar, tidak berpikiran liar. Tafahhum adalah paham terhadap makna. Takzim itu rasa hormat. Haibah adalah rasa takut yang bersumber dari rasa hormat. Raja' adalah pengharapan dan haya adalah rasa malu.


Faktor penyebab kehadiran hati adalah himmah atau perhatian utama. Tafahhum berasal dari kebiasan berpikir untuk mengetahui makna. Takzim lahir dari dua makrifat (terhadap kemuliaan dan keagungan Allah dan terhadap kehinaan dan kefanaan dirinya). Haibah datang dari makrifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya. Penyebab timbulnya raja' adalah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya, keluasaan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya. Sedang haya' muncul melalui perasaan serba kurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuan menunaikan hak-hak Allah. Berdasarkan itu, manusia terbagi menjadi tiga kelompok.


Pertama, orang lalai yang mendirikan shalat, tetapi hatinya tidak hadir sama sekali.

Kedua, orang yang mendirikan shalat dengan hati tak pernah lalai sama sekali.

Ketiga orang lalai yang tidak mendirikan shalat.


Yang terbaik adalah tipe kedua. Dia tidak pernah lalai dalam shalat dan selalu menghidupkan hatinya. Dia bisa sangat konsentrasi sehingga tidak merasakan apa yang tengah terjadi di sekelilingnya. Bahkan sebagian orang wajahnya pucat dan dadanya berguncang karena takut. Ini tak mustahil dicapai manusia. Apalagi banyak orang mengalami hal serupa karena takut pada raja dunia.Jika kita termasuk orang yang menginginkan akhirat, hendaknya tidak melalaikan berbagai peringatan yang terdapat dalam syarat-syarat dan rukun-rukun shalat.


Syarat-syarat yang mendahului shalat adalah azan, bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, berdiri tegak lurus dan niat. Ketika mendengar seruan muazin hadirkanlah dalam hati gambaran dahsyatnya seruan hari kiamat dan bersegeralah dengan lahir dan batin untuk segera memenuhinya. Orang-orang yang bersegera memenuhi seruan ini adalah orang-orang yang dipangil dengan penuh lemah lembut pada hari 'pergelaran akbar'. Arahkan hati kepada seruan ini. ''Jika kita bisa mendapatinya dengan penuh kegembiraan, kesenangan, selalu berkeinginan untuk memulainya, maka ketahuilah rasa khusyuk akan datang kepadamu,'' kata Said Hawwa dalam buku Tazkiyatun Nafs. (Menyucikan Jiwa).


dikutip dari Harian Republika Edisi 7 Maret 2003





Monday, September 8, 2008

Jangan Putus Asa Dalam Berdo'a...

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu. Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa. Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.
Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah. Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:
Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.
Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.
Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.
Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, "Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan)". Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya. Tetapi jika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya.
Wacana di atas dilanjutkan: Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki. Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu".
Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri. Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda:
"Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya".
(HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).
Dalam hadits lain disebutkan,
"Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku".
(HR. Bukhari-Muslim)
Dalam menafsiri suatu ayat Telah benar-benar doa kalian berdua di ijabahi, maksudnya baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah:
Maka hendaknya kalian berdua istiqamah, maksudnya adalah tidak tergesa-gesa. Sedangkan ayat, Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:
Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.
Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.
Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij' itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:
"Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata".
Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atas janji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap merasa hina di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri.
Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah:
"Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina".
Kenapa demikian?
Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan: Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu. Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.

Bersyukur Dalam Kesempitan

''Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.''
(QS Saba' [34]: 13).
Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya.
Ulama tersebut berkata,
''Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?''
Orang itu berkata, ''Tidak.''
Sang ulama bertanya lagi,
''Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?''
Orang tersebut menjawab, ''Tidak.''
Sang ulama yang dikenal saleh itu kembali bertanya,
''Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?''
Orang tersebut lagi-lagi menjawab, '
'Tidak.''
''Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?''
tanya sang ulama lagi.
Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan,
''Tidak.''
Maka, sang ulama bijak itu pun berkata,
''Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?''
Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.
Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi.
Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian Allah.
Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik melalui lisan dengan ucapan ''Alhamdulillah'' maupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya.
Bersyukur dalam Kesempitan
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
Republika

Positive Thinking : Cognitive Behavior Therapy (CBT)


Selalu berpikir positif ternyata membawa hidup lebih hidup kita berjalan diatas keberuntungan, beruntung dan selalu beruntung. Karena positif dapat diartikan sebagai keberuntungan. Beruntung kan positif.
Berpikir positif mengalirkan energi postif (Allah berkehendak positif) sehingga energi ini menciptakan keadaan yang positif pula, energi positif juga akan merangsang atau menstimulasi aura positif. Aura yang bisa mempengaruhi alam untuk bertindak sesuai dengan pikiran positif kita. Berpikir positif diawali dengan keadaan diri, kemudian melangkah pada keadaan lingkungan kemudian diperluas lagi pada keadaan alam semesta.
Pada intinya berpikir positif itu kepada Allah. Positif thinking juga membawa emosi positif, setiap apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi emosi kita kalau positif ya positif tapi kalau negatif ya negatif. Selalu positive thinking itu rasanya seperti dijalan diatas awan yang ringan kalau dijabarkan rasanya selalu optimis, semangat dan tidak mudah lelah. Jika dalam hidup ini bisa ngontrol pikiran untuk selalu berpikir positif maka tidak ada stress, depresi dan hidup kita akan enjoy. Inilah dasar dari CBT yaitu berpikir positif.
Jadi bukan lagi manajemen qolbu tapi menajemen pikiran… kalau qolbu kita akan kesulitan karena qolbu hanya mengikuti pikiran, tapi kalau yang kita manage adalah pikiran maka qolbu akan mengikuti pikiran. Pikiran dulu baru qolbu ….maka dalam islam tidak ada perintah untuk emosi positif yang adalah gambaran bila kamu begini maka akan begini, tapi yang diperintahkan islam adalah pikiran nya seperti berpikir positif itu perintah jelas yaitu husnudzan….so kesimpulannya adalah berpikir lah yang positf, bukan beremosilah yang positif. …..

Peristiwa Penting dan Bersejarah Selama Bulan Ramadhan

Peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah pd bulan Ramadhan
  1. Perang Badar yang terjadi pada tangal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Perang Badar dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih umat Islam di awal pertumbuhannya di Madinah.
  2. Fathu Makkah yang terjadi pada tahun ke delapan hijrah. Jihad ini merupakan kemenangan untuk menghancurkan tuhan-tuhan berhala dan menancapkan panji kebenaran.
  3. Pada Ramadhan tahun 9 Hijrah, Rasulullah saw. menerima utusan dari Tsaqif untuk membaiat Nabi Muhammad Saw.
  4. Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan.
  5. Pada Ramadhan tahun 53 Hijrah, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa.
  6. Pada bulan Ramadhan tahun 91, umat Islam memasuki selatan Andalusia (Spanyol sekarang)
  7. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalus dengan komandan Thariq bin Ziyad
  8. Pada bulan Ramadhan tahun 132 H., Dinasti Umawiyah ditumbangkan dan berdirilah daulah Abbasiyah.
  9. Pada bulan Ramadhan tahun 254 H., Mesir memisahkan diri dari daulah Abbasiyah dengan pimpinan Ahmad bin Thaulun.
  10. Pada Ramadhan tahun 361 H., dimulainya pembangunan Masjid Al-Azhar yang kelak menjadi universitas Al-Azhar di Kairo.
  11. Pada bulan Ramadhan tahun 584 H., Sholahuddin Al-Ayyubi mulai menyerang tentara Salib di Siria dan berhasil mengusir mereka.
  12. Pada Ramadhan 658 H., Umat Islam berhasil menghancurkan tentara Tartar di perang “Ain Jalut”
  13. Pada Ramadhan tahun 675 H., Raja Bebes dan tentaranya berhasil mengusir tentara Salib secara total.
  14. Pada bulan Ramadhan 1393 tentara Mesir berhasil merebut terusan Suez dan mengusir tentara penjajah, Israel dari Sinai.

Thursday, September 4, 2008

Senangkan Orang Tua Semasa Hidup!

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!" jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.
Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.
Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"
Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

----Ndhiendhi.salim (at) gmail.com

Jikalah..

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha
senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja
dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak
mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam
raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi
langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat
menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap
saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup
bersabar meski hanya sedikit jua?)]

-----------------------

oleh Aida Sari (aid_1612@yahoo.com)

Wednesday, September 3, 2008

La Tahzan (Jangan Bersedih)

Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada

Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga merekapun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.

Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapat ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan,jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang kena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda !

Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada disekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.

Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi,
".. meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri."( Al-Hadits)

Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib.
Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini merupakan bukti dari Sang Pemberi Pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, seta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga hakekatnya.

{Pada hal tiak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi(dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan } (QS.Al-Lail:19-21)
( Dikutip oleh Ismunadji, dari Buku La Tahzan, Jangan bersedih, Karya Dr. Aidh al-Qarni, penerjemah Samson Rahman )

Kekuatan Ikhlas

Ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah semata. Alquran menyuruh kita ikhlas (QS Yunus [10]: 105). Rasul SAW mengingatkan,
''Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.''
(HR Abu Dawud dan Nasa'i).
Imam Ali RA juga berkata,
''Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.''
Kendati bersimbah peluh, berkuah keringat, menghabiskan tenaga, menguras pikiran, kalau tidak ikhlas, sebesar apa pun amal, sia-sia di mata Allah. Maka, sungguh rugi orang yang bertempur, mempertaruhkan nyawa dengan niat ingin disebut pahlawan, atau orang yang sedekah habis-habisan hanya ingin disebut dermawan.
Seorang sufi menuturkan,
''Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah SWT. Untuk menjadi saksi atas perbuatanmu.''
Ikhlas menjadi benar-benar teramat penting yang akan membuat hidup ini menjadi indah, ringan, dan bermakna. Ikhlas akan membuat jiwa menjadi independen, merdeka, tidak dibelenggu pengharapan akan pujian. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian mendapat penghargaan ataupun imbalan dari makhluk. Penantian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya, caci maki.
Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidup, karena ia banyak berharap pada makhluk yang lemah, ia mengikatkan diri pada tali yang rapuh. Jabatan tak kan membuat terpesona hati orang yang ikhlas. Ia tidak ujub dengan jabatan setinggi langit, dan tidak minder dengan jabatan yang rendah. Dalam benaknya Allah menilai bukan dari jabatan, tapi tanggung jawab terhadap amanah dari jabatannya itu. Ia sangat yakin akan janji dan jaminan Allah yang Mahakaya.
Justru imbalan manusia tiada apa-apanya dibanding imbalan Allah SWT. Sungguh tak ada risau, tak khawatir ditipu, dikhianati, bila dekat dengan seorang hamba yang ikhlas. Justru sebaliknya, orang akan merasa nyaman karena sikap dan tutur katanya menghargai dan menyejukkan, penuh manfaat, karena orang yang ikhlas perhatiannya fokus memberi yang terbaik untuk Allah yang selalu menatapnya. Imbasnya akan memberi kebaikan pada orang yang berada di kanan-kirinya.
Dan Allah beri penghargaan pada mereka (QS An-Nisa [4]: 146). Subhanallah, adakah yang lebih berharga dari pemberian Allah? Maka, nikmat Tuhan manakah yang kita dustakan?

Tuesday, September 2, 2008

Rencana TUHAN itu Pasti INDAH (La Tahzan)

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.” Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; ”anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. ” Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata: ”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; “Allah, apa yang Engkau lakukan? ”
Ia menjawab: ”Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah, ”Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”
Kemudian Allah menjawab, ”Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”

“Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu’ Beribadah”

LOWONGAN DI AKHIRAT (Surga dan Neraka)

Sebuah lowongan istimewa telah dipersiapkan sebelum alam ini diciptakan. Lowongan ini terbuka bagi semua orang tanpa pengecualian, tanpa melihat pengalaman kerja, tanpa ijazah, tanpa koneksi. Lowongan ini terbuka bagi semua pengangguran maupun yang sedang bekerja dengan latar belakang apapun, baik direktur, gubernur, tukang becak, perampok, koruptor, pembunuh, pendeta, kyai, para dermawan, dll. Setiap pelamar dijamin pasti diterima di salah satu posisi yang disediakan, bahkan yang tidak melamar sekalipun pasti diterima !
LOWONGAN DISEDIAKAN UNTUK 2 POSISI :
A. Penghuni Syurga
B. Penghuni Neraka
UNTUK POSISI A DISEDIAKAN FASILITAS DAN KOMPENSASI SBB :
Sebelum kandidat diberi fasilitas final berupa Syurga yang kekal abadi, kandidat dijamin akan memperoleh training outdoor dan indoor, berupa :
1. Nikmat kubur.
2. Jaminan perlindungan di Padang Mahsyar.
3. Keselamatan meniti Sirath-al mustaqim.
Syurga memiliki berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia”
(HR Muslim).
Nikmat yang lebih indah dari syurga adalah ‘merasakan’ ridha Allah dan kesempatan merasakan ‘wajah’ Allah, inilah puncak segala kenikmatan, inilah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, yaitu keindahan menikmati sifat-sifat dan kalam murni Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
UNTUK POSISI B DIPASTIKAN AKAN MENIKMATI BERAGAM KESEMPATAN DIBAWAH INI
Kandidat dipastikan mendapat berbagai fasilitas Neraka berupa alam terbuka dengan fasilitas pemanas ruangan yang bertemperatur sangat luar biasa panasnya. Bahkan bila sebutir pasir neraka dijatuhkan ke muka bumi maka mengeringlah seluruh samudera di muka bumi ini dan mendidihlah kutub es yang ada di muka bumi ini. Bahkan bila seseorang dikeluarkan dari dalamnya sekejab kemudian dipindahkan ke tumpukan api unggun yang menyala-nyala di muka bumi ini maka iapun akan merasa lega. Neraka sangat luas, jadi para pelamar posisi ini tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat. Para pelamar posisi ini juga tak perlu khawatir segera mati kalau dibakar, karena tubuh kita akan dibuat sedemikian rupa hingga mampu memuai kalau dibakar (seperti kerupuk bila digoreng).
Rasulullah saw bersabda,
“Di neraka gigi seorang kafir akan (memuai) hingga sebesar gunung Uhud, dan (tebal) kulitnya membentang sejauh tiga hari perjalanan”
(diriwayatkan oleh Abu Hurairah, HR Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda,
“Neraka dipegang oleh tujuh puluh ribu tali, dan setiap talinya di pegang oleh tujuhpuluh ribu malaikat”
(HR Muslim).
Rasulullah saw bersabda,
“Allah mempunyai malaikat yang jarak antara kedua belah matanya adalah sepanjang seratus tahun perjalanan”
(Abu Daud, Ibn Hanbal).
Oh, ya. Fasilitas ini juga meliputi makanan gratis yang mampu membakar isi perut, minuman yang mampu membocorkan usus serta fasilitas kolam renang gratis yang berisi nanah dan darah. Beberapa pembantu gratis juga disiapkan untuk menyayat lidah orang-orang yang suka menyakiti hati orang lain, maupun menyeterika perut orang-orang yang tidak membayar zakat.Selain fasilitas tersebut, para kandidat akan melewati masa training yang lamanya mencapai ribuan tahun, yaitu :
1. Training indoor didalam kubur berupa siksa kubur dan ‘hidup’ dalam kesengsaraan ditemani ular dan makhluk aneh lainnya serta wajah-wajah buruk selama bertahun-tahun hingga ribuan tahun di alam barzakh tergantung kualitas amal ibadahnya dan dosa-dosa yang ia lakukan.
2. Training outdoor dilakukan di padang Mahsyar selama ribuan tahun, dalam suasana kepanikan dan huru-hara yang luar biasa. Bapak, ibu, anak dan saudara-saudara kita tak mampu menolong kita karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan para nabipun tidak mampu menolong, kecuali nabi Muhammad SAW yang akan menolong umatnya yang rajin bersholawat padanya.
SYARAT-SYARAT PELAMAR
  • Tidak diperlukan ijazah
  • Tidak diperlukan koneksi atau uang sogok.
  • Tidak perlu bawa harta
  • Tidak perlu berwajah cantik, ganteng, berbadan tegap atau seksi. Cukup membawa dokumen asli dari keimanan dan amal karya Anda sendiri.

WAKTU WAWANCARA :

Wawancara tahap 1,

dilakukan 7 langkah setelah pelayat terakhir meninggalkan kuburan Anda.

Sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya bila jenazah seseorang diletakkan di dalam kubur,maka jenazah itu mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburan pada saat mereka meninggalkan tempat itu"

(hadist hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Hanbal).

Perlu diketahui jadwal wawancara Anda ini sudah ditentukan sejak roh ditiupkan ke tubuh Anda semasa dalam kandungan ibu.

Wawancara tahap 2 : Hanya Allah lah yang tahu.

LOKASI DAN LAMA WAWANCARA

Wawancara tahap I,

dilakukan di dalam kubur (alam barzakh) selama beberapa menit hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya.

Wawancara tahap II,

dilakukan pada hari penghisaban (hari perhitungan) selama beberapa hari hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah pernah bersabda bahwa jarak waktu masa pengadilan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin adalah 500 tahun. Berbahagialah Anda yang miskin selama di dunia, yang memiliki sedikit harta untuk diminta pertanggungjawabannya (karena sebutir nasi yang Anda buang akan diminta pertanggungjawabannya).

PEWAWANCARA:

Wawancara tahap I,

dilakukan oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Wawancara tahap II,

dilakukan langsung oleh sang Penguasa Hari Kemudian

WAWANCARA HANYA BERISI 6 PERTANYAAN :

1. Siapa Tuhanmu ?

2. Apa agamamu ?

3. Siapa nabimu?

4. Apa kitabmu?

5. Dimana kiblatmu ?

6. Siapa saudaramu?

Sungguh 6 pertanyaan yang sangat mudah, tapi sayangnya tidak bisa dihapal dari sekarang karena keimanan dan amal kitalah yang akan menjawabnya.

CARA MELAMAR:

Sekalilagi, ini benar-benar rekrutmen yang sangat istimewa, tidak perlu melamar, siapa saja dijamin diterima, bahkan untuk melamarpun Anda akan dijemput secara khusus. Dijemput oleh makhluk sekaliber malaikat yang bernama Izroil. Ia akan menjemput anda kapan dan dimana saja (bisa jadi sebentar lagi).

BENARKAH LOWONGAN INI ?

Simaklah hadits dibawah ini, sesungguhnya terlalu banyak rahasia alam ini yang tidak mampu kita ketahui, apalagi mengenai akhirat.

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut), langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah ! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan” ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari)

Sementara jutaan Malaikat dengan penuh rasa takut dan hormat sedang bersujud kepada Allah, dan sementara Malaikat peniup Sangkakala sudah siap di depan trompetnya sejak alam ini diciptakan, sementara itu pula masih banyak diantara kita yang masih terlena dengan dunia ini. Tidak sadar ia bahwa dirinya sedang masuk dalam program penerimaan lowongan yang ada di akhirat.

MAU MELAMAR KE POSISI B ?

Mudah saja, hiduplah sesuka anda...............!!!

Sumber : NN


Penyumbat Saluran Rezeki

Penyumbat Saluran Rezeki
( KH Abdullah Gymnastiar )
Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?” Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas.

Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya? Saudaraku, Allah adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

  • Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.
  • Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.
  • Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.
  • Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.
  • Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.

Tabloid Jumat,

Republika


Monday, September 1, 2008

Berada di Level Manakah Tingkatan Puasa Kita?

Imam Al Ghazali, dalam bukunya Ihya Ulumuddin, menggolongkan pelaksanaan ibadah puasa dalam tiga tingkatan (level).
Level pertama, puasa orang awam (umum), kedua, puasa orang khusus, dan ketiga, puasa orang istimewa.

Puasa Awam
Ini dimaknai sebagai pelaksanaan puasa per definisi, yakni sekadar tidak makan, minum dan jima’ sejak fajar hingga maghrib. Ciri-cirinya antara lain:
  • Sahur dan berbuka sangat tepat waktu, dengan menu yang diupayakan banyak dan bervariasi
  • Siang hari sibuk mempersiapkan makan berbuka, malam hari sibuk menyiapkan santap sahur
  • Membunuh hari dengan jalan-jalan subuh, jalan-jalan sore, tidur, bermain, nonton, mancing, ngobrol, dan aktivitas iseng lainnya
  • Semakin hari semakin malas sahur
  • Semakin mendekati akhir Ramadhan bukannya semakin dekat ke masjid tapi kian dekat ke pasar


Puasa Khusus
Di samping menahan yang tiga hal tadi, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Puasa level kedua ini, puasanya orang-orang salih.


Imam Al Ghazali memberikan tips untuk mencapai kualitas puasa ini, yaitu:

  • Menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa meninggalkan pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya.”
  • Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berdzikir kepada Allah serta membaca Al Quran. “Dua perkara merusakkan puasa,” sabda Rasulullah SAW, “Yaitu mengumpat dan berbohong.”
  • Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah SAW menjelaskan: "Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa".
  • Mencegah anggota-anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Seperti mencegah tangan dan kaki dari berbuat maksiat dan mungkar, mencegah perut dari memakan yang syubhat dan haram.
  • Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka sampai perutnya penuh makanan. Orang yang berbuka secara berlebihan tentu tidak akan dapat memetik manfaat dan hikmah puasa. Bagaimana dia berusaha mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsunya, jika saat berbuka dia justru memanjakan nafsunya dengan makanan yang terhitung banyak dan jenisnya.
  • Hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap (raja’), lantaran ketidaktahuannya apakah Allah menerima puasanya atau tidak. Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualitas puasa yang telah dilakukan, sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.

Puasa Istimewa
Puasa level ketiga ini, puasanya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin.
Ciri-cirinya antara lain seperti perkataan Al Imam Abdullah bin Husain bin Thohir,
“Di bulan Ramadhan ini, amal ibadahku sama saja seperti Ramadhan tahun lalu. Tidak bertambah dan juga tidak berkurang. Aku bukan tidak ingin menambah ibadahku di bulan ini, tapi aku tidak memiliki waktu kosong untuk mengerjakan ibadah yang lain. Waktuku semua sudah penuh.’’ Lalu ia berkata pada anak-anaknya, ‘’Wahai anak-anakku, jika ada dari kalian yang mampu untuk menjual sedikit saja waktunya, niscaya akan kubeli.’’
Kesimpulan
Silakan kita masing-masing bercermin diri, berada dilevel berapakah tingkatan kualitas puasa kita. Tentulah kita sendiri yang dapat mengetahuinya, dan semoga hari demi hari bertambah kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Sang Pencipta. Amien…….