Wednesday, October 22, 2008

GUS DUR TERIMA PENGHARGAAN YAHUDI

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44,
Tanggal 16 - 29 Mei 2008 M/10 - 23 Jumadil Awal 1429 H

Tokoh Nahdliyin Gus Dur hari Minggu 4 Mei lalu berangkat ke Amerika untuk menerima peng-hargaan dari Yayasan Simon Wiesenthal Center (SWC) – sebuah LSM di Amerika yang bergerak melindungi kepentingan bangsa Yahudi. Ditemani isterinya, Siti Nuriyah, selama seminggu di Amerika, Gus Dur dijadwalkan akan mengunjungi Universitas George Washington, bertemu dengan mantan koleganya Paul Wol-fowitz serta sejumlah senator Amerika dan juga calon kandidat Presiden Barack Obama.
Menurut situs gusdur.net, di Negeri Paman Sam itu Gus Dur akan menerima penghargaan internasional dari dua lembaga berbeda dan menjadi narasumber di sejumlah forum. Penghargaan pertama didapat dari Simon Wieshenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang penegakan HAM dan toleransi antar umat beragama. Yayasan tersebut telah memberikan piagam penghargaan kepada 12 aktivis. Dan enam orang di antaranya kemudian menerima Nobel perdamaian. Lembaga yang berkantor di New York ini menilai Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Oleh sebab itu, Gus Dur dianugerahi Medals of Valor, sebuah penghargaan terhadap person yang dengan gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme.
SWC sebenarnya adalah sebuah LSM terkenal di Amerika Serikat yang melindungi kepentingan kaum Yahudi inter-nasional. Lembaga yang didirikan pada 1977 oleh Simon Wiesenthal (1908-2005), pemburu penjahat perang Nazi dan pembuat dokumen kekejaman Nazi atas kaum Yahudi, yang dikenal Holocaust. Salah satu slogan mereka adalah “Berdiri bersama Israel, membela keselamatan umat Yahudi di dunia dan mengajarkan hikmah Holocaust kepada generasi mendatang. Saat ini bersama dengan Museum Of Tolerance di Los Angeles dan New York Tolerance Center, adalah lembaga-lem-baga internasional untuk mengenang Holocaust,” sebagaimana tertulis di situs-nya www.wiesenthal.com
Lembaga ini juga memiliki kedekatan yang erat dengan Israel untuk membela kaum Yahudi. Lembaga yang mengklaim memiliki 400.000 kader di AS ini memiliki program yang mengajarkan toleransi dan anti terhadap kekerasan SARA. Diam-diam SCW ternyata telah banyak melakukan kiprahnya di Indo-nesia.
Kiprah Simon Wiesenthal Center (SWC) di Indonesia ternyata tidak hanya sebatas rencana pemberian penghargaan pada Gus Dur. LSM pembela Yahudi ini sudah mensponsori sejumlah kegiatan di Indonesia yang sepertinya menempati posisi khusus bagi Simon Wiesenthal Center. Tiap kegiatan yang diadakannya selalu terekam di catatan situs resmi mereka. Dari situs resmi mereka yang dirunut detikcom, bisa diusut sekurang-nya ada 3 kegiatan yang melibatkan orang Indonesia.
Pertama, penampilan perdana tokoh Yahudi-Amerika dalam suatu acara talkshow di salah satu televisi Tanah Air. Rabbi Abraham Cooper yang sekaligus kolega SWC berperan sebagai pembicara bersama Rektor UIN Komaruddin Hidayat, budayawan Muji Sutrisno, dan Soegeng Sarjadi. Tema acara tersebut adalah Toleransi Antar Umat Beragama: Wujud Rahmatan lil Alamin
Kedua, mensponsori konferensi antar agama yang digelar di Bali pertengahan 2007. SWC bersama Wahid Institute dan LibForAll Foundation menggelar acara yang bermuara pada sikap mengutuk keras segala bentuk aksi terorisme..Ke Bali, Israel mengirim beberapa 'dutanya'. Mereka berkisah bagaimana lolos dari kekejaman holocaust dan bom bunuh diri di Yerusalem.
Ketiga, adalah kunjungan 5 orang yang berasal dari ormas-ormas Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU, ke Israel. SWC bertindak sebagai tuan rumah, sementara kedatangan mereka disponsori oleh LibForAll Foun-dation. Dalam situs resmi SWC yang mengutip Jerusalem Post, wakil Muham-madiyah adalah Syafiq Mugni, sedangkan Abdul A'la mewakili NU. Kedatangan mereka disambut positif oleh SWC. Bahkan kedatangan 5 orang tersebut digambar-kan sebagai perwakilan 70 juta orang Indonesia."Sebuah misi penting pemimpin muslim dari Indonesia yang datang ke Israel sebagai tamu Simon Wiesenthal Center. Kelompok ini, mewa-kili lebih dari 70 juta orang konstituen yang dikoordinasi LibForAll Foundation," klaim SWC dalam situsnya.
Penghargaan kedua didapat Gus Dur dari Temple University, Philadelphia. Nama Abdurrahman Wahid didedikasikan perguruan tinggi itu untuk jabatan profesor ahli studi agama-agama (pro-essor chair of Islam in Dialogue). Temple University itu menilai Gus Dur sebagai salah satu tokoh di dunia Islam yang berjuang untuk dialog antaragama.
Selain menerima penghargaan, Gus Dur direncanakan akan berbicara mengenai hubungan antar agama di George Washington University di Washington DC. Di Ibukota AS itu, pendiri the WAHID Institute ini juga akan bertemu sejumlah senator AS dan staf Gedung Putih. Mantan Ketua Umum PBNU ini juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh dan LSM perdamaian di kota New York. Di kota itu dia akan menyampaikan pandangannya tentang agama dan perda-maian dunia dalam Konferensi Internasional untuk Agama dan Perdamaian. Konferensi itu diimpin oleh Taj Hamad, seorang muslim AS berdarah Sudan yang menjadi Sekretaris Jenderal World Association of Non-Governmental Organizations. Gus Dur juga pernah menjadi pemimpin Konferensi itu saat menjabat menjadi Presiden. Setelah dari Amerika disebut-sebut Gus Dur juga akan menghadiri ulang tahun ke 60 negara Israel, undangan dilayangkan oleh mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres.
Rencana kunjungannya ke Israel ini tentu saja memunculkan reaksi keras. Sebutlah Amien Rais yang sangat menyayangkan Gus Dur nekat ke Israel. Kecaman atas kunjungannya menghadiri ultah 60 tahun negara Israel juga disampaikan Wakil Kepala Biro Politik Hamas Dr. Musa Abu Marzuk sebagai-mana dimuat dalam situs hidayatullah.com. Daripada merayakan penjajahan Israel terhadap Palestina, lebih baik menjenguk dan membantu 1,5 juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang kelaparan dan krisis bahan bakar, karena diblokade Israel. Demikian pendapat Dr Musa Abu Marzuk. “Kunjungan ke Israel itu sungguh memalukan“, ujarnya.
Menurut Abu Marzuq, merayakan 60 tahun berdirinya Zionis Israel sama halnya merayakan pembantaian, pengusiran, perusakan kebun-kebun dan penjajahan atas rakyat Palestina dan Masjidil Aqsa. "Bagaimana mungkin seorang Muslim seperti Abdurrahman Wahid tega ikut serta merayakan keza-liman atas saudara-saudara Muslimnya sendiri?" ujanya lagi. Dr Musa menyarankan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk datang sendiri melihat keadaan saudara-saudaranya di Gaza: "Sudah berbulan-bulan, 1,5 juta saudara-saudara Anda, terutama anak-anak, saat ini hidup tanpa bahan bakar, tanpa obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas karena diblokade oleh Zionis Israel," terangnya.
Ada yang mencurigai kunjungan Gus Dur kali ini ada hubungannya dengan pencalonannya sebagai Presiden pada Pemilu 2009 nanti. Apakah ada kaitannya dengan konsep trilateral Indonesia-Amerika-Israel?
[msa/dbs/www.suara-islam.com]

No comments: